.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Wednesday, January 16, 2008

dunia tanpa sekolah, the inspirational book!

Apa arti sekolah buat seorang anak yang telah membaca lebih dari 600 buah buku? Apa arti pergi ke sekolah buat siswa SMP berusia 15 tahun yang ingin jadi penulis?

Mengapa Muhammad Izza Ahsin memutuskan quit! Walau dia harus berjuang berbulan-bulan untuk membuat kedua orang tuanya menyerah pada keputusannya. Mengapa Izza mengalami sindrom sekolah?

Mengapa pagar tembok gedung sekolah dan besi-besinya bagai sebuah penjara yang mengurung jiwanya?

…pagar itu adalah penjara pikirannya. Dan para guru adalah sipir-sipirnya. Sementara dia salah satu napinya. Mereka merampas kebebasannya yang paling asasi, kebebasan berpikir, kebebasan berenang dan menyelami serta menyesap madu ilmu pengetahuan…

Mengapa saya harus dijejalkan oleh begitu banyak pelajaran yang tak pernah saya inginkan? Mengapa saya harus membuang-buang umur hanya untuk mengetahui not balok, menghafal UUD 45, kosa kata daerah, syair lagu daerah, mempelajari rumus-rumus yang mungkin takkan saya pakai seumur hidup saya?

Tanpa PPKN pun saya yakin saya akan menjadi warga negara yang baik dan taat hukum. Sebab agama telah mengajarkan saya demikian. Tanpa pernah belajar PPKN pun tukang batu dapat jadi warga yang baik. Dengan dijejali PPKN, berjam-jam penataran P4 yang korupsi akan tetap korupsi. Nepotisme akan terus berjalan.

Apa jika tak bisa membaca not balok hidup saya akan sengsara? Apa dengan tidak hafal lagu daerah atau lagu nasional saya tidak punya kebanggaan nasional atau tak menghargai warisan leluhur? Wah kalau begitu caranya alangkah susahnya hidup di bumi Indonesia. Di bumi yang telah lebih dari enam puluh tahun merdeka.

tidak!
tiDAAAK!!
TIDAAAAAAAK!!!

Saya ingin belajar! Tapi bukan begini caranya!!! Saya ingin memilih apa yang ingin saya pelajari. Dan membuang apa yang bagi saya tak perlu saya ketahui. Saya bukan manusia setengah dewa yang bisa menyerap semua itu. Saya tak perlu belajar itu semua oke? Kalau Anda berpendapat pelajaran yang ada dikurikulum sekolah sudah tepat, itu hak Anda. Tapi jangan paksa saya. Saya lebih percaya pada kekuatan fokus dari pada harus belajar dengan cara gado-gado!

Bagi saya belajar adalah perjalanan sepanjang hayat. Bukan hanya duduk di bangku sekolah! Seperti yang saya liat sehari-hari. Selesai sekolah. Selesai juga belajar

Mengapa setiap orang begitu mengagung-agungkan sekolah? Padahal sekolah hanyalah mencetak lembar-lembar ijazah. Mencetak generasi-generasi bermental tempe yang begitu percaya ujung nasibnya pada angka-angka yang tercetak di selembar kertas. Mematikan kreativitas diotakmu. Menyuntikkan doktrin di otakmu tentang betapa malangnya orang yang tidak sekolah (sementara kau tidak menyadari betapa malangnya dirimu!)

Jika kau mengatakan pendidikan adalah ukuran kemakmuran. Cobalah kau tanya Bill Gates dan Dell. Mengapa mereka lebih memilih de’o daripada lulus kuliah. Tanyalah Anang Sam berapa banyak pengaruh sekolah membodohi pikiranmu. Hasil survey membuktikan : Semakin tinggi tingkat pendidikan. Makin rendah tingkat kesejahteraan! Kalau kau tidak percaya. Cobalah kumpulkan data orang-orang terkaya disekitarmu.

Saya ingin menulis novel. Mengapa saya harus mempelajari trigonometri yang demikian njelimet. Sinus, kosinus, tangen. Perduli apa itu semua. Saya tak membutuhkannya. Tidak! Otak saya bukan seperti John Nash. Kalau saya bilang trigonometri tidak penting buat saya, itu seperti saya mengatakan gergaji tidaklah penting buat seorang pianis.

Mungkin saja suatu hari nanti saya akan mati-matian belajar Aljabar, sampai muntah-muntah, jika tulisan saya mengharuskan demikian

Mengapa di bumi merdeka…

…Di bawah kolong langit yang telanjang kemerdekaan pikiran malah dipasung. Sementara orang-orang menonton film biru dibiarkan saja? Mentri-mentri korup tak dikandangkan? Filosophi macam apa ini? Dongeng dari mana sistem karatan ini? Mengapa begitu sedikit orang yang berani menentang dogma gila ini?

Apa yang kau dapat jika jam ini kau belajar matematika, lalu dua jam berikutnya kau belajar biologi dan jam selanjutnya lagi kau dijejali geografi, kemudian ketika kau telah kelelahan masih disuruh duduk mendengarkan ceramah kesenian.

Tak heran Rabindranath Tagore mengatakan sekolah adalah suatu hal yang tak tertahankan.

Bagaimana jadinya dunia ini jika saja Thomas Alva Edison tak pernah dikeluarkan dari sekolah?! Akankah kita masih memakai obor. Atau menyalakan komputer dan menyetel tivi dengan aki yang harus diisi setiap minggu airnya seperti jaman film Michael London?

Bagaimana jalan cerita sejarah jika Einstein tidak dianggap mahluk idiot dan disingkirkan dari sekolah?
- - -


Bagaimana cerita seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai akademis tumbuh menjadi pemberontak akademis?

Apakah M. Izza Ahsin, keracunan buku-buku yang dibacanya seperti anggapan yang terpantek pada kepala guru BP sekolahnya?

Buku dibaca untuk diambil manfaatnya.

Apa gunanya membaca beratus-ratus buku jika kau biarkan dirimu terapung-apung dalam sungai kebodohan. Sebab keras kepala, doktrin gila yang membuatmu ketakutan, atau kepercayaan keliru turun-temurun yang akan kau dan mereka wariskan?

Hatimu membenarkan. Jiwamu menerima. Mulutmu mengamini. Tapi kelakuanmu membantahnya? Macam mana kau ini?

Sulit bagiku menjelaskan padamu tentang apa yang ada dikepalaku. Sebab pikiranmu bahkan alam bawah sadarmu yang telah terpola sekian lama mengatakan : sekolah adalah simbol status sosial. Dimana angka-angka ukuran kecerdasannya. Dan titel-titel adalah perhiasan kebanggaan. Hingga tak bersekolah berarti…

Kau tak punya otak!
Calon maling!
MaDeSu!
Enyah jauh-jauh! Jangan kau kawani anakku, berandalan bermasa depan suram!
Bagiku itu tak penting.

Aku tak butuh gelar. Aku tak butuh angka-angka. Bagiku nilai seseorang adalah dirinya sendiri secara aktual. Dimana karya-karya tidak butuh wakil tertulis pada selembar kertas berlabel sertifikat atau ijazah! Tapi kenyataan faktual!

* Mungkin orang tuaku sudah kalah. TAPI AKU BELUM MAU MENYERAH!!! *

Itu semua yang di atas kata-kata saya (kecuali yang diapit tanda bintang) . Tapi paling tidak itulah inti buku : Dunia Tanpa Sekolah yang ditulis M. Izza Ahsin, anak usia 15 tahun yang memutuskan sesadar-sadarnya untuk keluar dari bangku sekolah.

Buku ini adalah kisah nyata penulisnya sendiri.

Izza siswa kelas tiga (yang tak sudi lagi lulus) SMP, telah memilih nasibnya sendiri. Namun sebelum dunia luar menguji tekadnya. Rintangan pertama yang harus dihadapinya adalah kedua orang tuanya sendiri. Bagaimana mungkin orang tuanya yang berpendidikan S2 membiarkan anaknya sendiri tidak sekolah. Padahal ibunya seorang guru dan ayahnya seorang kepala sekolah? Mbak-mbak dan Mas-mas keluarga dekatnya sedang menempuh strata satu di UGM.

Apa kata dunia?

Ya apa kata dunia? Itulah problem sang orang tua. Sistem pola pikir tersesat yang sudah karatan tertanam di otak kami. Otak anda. Otak kita semua. Nggak sekolah? Mau jadi apa nanti? Semboyan yang barangkali awalnya berangkat dari keprihatinan akan rendahnya tingkat pendidikan di negeri kita. Lalu kebablasan menerjemahkan menjadi bahwa sekolah (formal) adalah satu-satunya media untuk menjadi pintar serta meraih masa depan.

Inspirasional!

Sebenarnya buku ini sudah lama saya baca. Sekitar Agustus 2007 kemarin waktu masih luntang-lantung di KPP Pratama Kebon Jeruk Satu.

Buku ini mencerahkan. Membuka cara pandang yang selama ini tergembok dalam otak kita. Barangkali seperti kata Izza. Sukar bagi kita yang selalu diajarkan konservatif dalam menghadapi masa depan—dimana prestasi di sekolah merupakan jaminan masa depan yang baik---untuk menerima cara pandangnya. Sejak kecil kita tanpa sadar telah didoktrin bahwa sekolah adalah the bestway to the future. Masyarakat, guru-guru, orangtua tak memberi kesempatan untuk memikirkan celah lain. Hingga ketika kurikulum sekolah begitu menjemukan. Orang yang kelebihan uang mensiasati dengan mengkursuskan anak-anaknya agar mempunyai daya saing tinggi. Membekali anak-anaknya dengan berbagai keterampilan.

Bagaimana dengan yang miskin dan pas-pasan?

Mereka yang miskin dan pas-pasan barangkali hanya bisa berupaya dengan belajar sungguh-sungguh. Karena satu-satunya aset masa depan mereka, seperti kata Izza, adalah prestasi akademis (nilai-nilai di Ijazah). Dan itu berarti sekitar 95 persen—yang harus tersingkir, kalah bersaing—sisanya hanya bisa pasrah menunggu nasib, berdoa banyak-banyak semoga nasib membawa peruntungan mereka kearah lebih baik..

Mereka yang miskin dan tidak begitu cerdas. Apalagi berotak pas-pasan akan semakin prustasi. Di sekolah tak dianggap, guru-guru mencela. Di rumah orangtua memarahi, menuduh mereka anak malas. Di luar masyarakat mencibir, mencap brandalan. Tak ada yang memberi tempat. Tak ada yang memberi solusi. Dicekoki gaya hidup beracun yang ditawarkan media televisi. Hingga lahirlah generasi tempe. Pacaran. Tawuran. Narkoba.

Setuju atau tidak. Faktanya, kurikulum sekolah di negeri kita memang didesain untuk membangun hidup sebagai pekerja. Bukan pencipta lapangan kerja.

Coba tanya cita-cita anak anda.

Ingin jadi dokter
Ingin jadi pilot.
Ingin jadi arsitek.
Ingin jadi guru.
Ingin jadi tentara.
Ingin jadi presiden.

Ada yang ingin jadi pedagang? Ada yang ingin jadi tukang tahu? Ada yang ingin jadi penulis?

Nyaris tak ada!
Mengapa demikian?

Itu karena pola pikir kita dibentuk bahwa menjadi dokter atau arsitek atau mentri atau dosen lebih mulia dan lebih makmur daripada pedagang atau tukang tahu. Jangan konotasikan pedagang dengan melulu orang yang jualan tahu di pasar. Mereka yang berbisnis retail juga pedagang. Awal pertama memulai mereka tak sebesar itu. Bahkan banyak yang memulainya dengan modal dengkul. Dan sebagian dari mereka yang berhasil. Justru mereka dengan pendidikan minim. Ada yang hanya lulus SD atau SMP. Bahkan nggak jarang yang hanya bisa baca tulis tanpa ijazah selembarpun.

Mengapa orang yang sudah sekolah tinggi-tinggi kalah juang dengan mereka? Padahal secara basic pengetahuan lebih baik dari mereka

Barangkali jawabannya sederhana. Orang-orang ini keracunan ilmunya sendiri. Pengetahuannya telah membelenggu dirinya. Ketika akan memulai usaha mereka akan berpikir seribu kali. Mengkalkulasi seribu macam kemungkinan. Segala macam teori ekonomi. Teori pasar. Teori moneter. Teori permintaan. Teori penawaran. Teori busuk yang menakut-nakuti langkah mereka.

Kenapa kita sulit ngomong inggris? Padahal dari SMP kita sudah belajar bahasa inggris.

Barangkali jawabnya juga sederhana. Karena kita selalu dijejali teori, bukan praktek. Teori membuat kita ketakutan. Bagaimana jika salah mengucap? Bagaimana jika salah tenses? Tentu memalukan, bukan? Orang-orang akan menertawakan—padahal yang tertawa belum tentu bisa! Pendeknya semua pengetahuan itu sudah membuat kita keder, sebelum memulai.

Pola pikir akan membentuk kerangka berpikir, menyikapi keadaan, memberikan respon.

Mari kita simak seorang guru bahasa indonesia yang menyuruh siswanya membuat kalimat aktif dengan kata pergi. Maka inilah yang ditulis murid-muridnya di papan tulis.

Ibu pergi ke pasar membeli sayur.
Ayah pergi ke pasar membeli pupuk
Amir pergi ke pasar membeli seragam sekolah
Wati pergi ke pasar belanja ikan
Sarimin pergi ke pasar membeli pisang (wah bahkan sarimin pun nggak luput yah?...)

Nyaris tak ada kalimat : Bu guru pergi ke pasar menjual sayur.

Mengapa begitu?

Karena kalimat ‘Bu guru pergi ke pasar menjual sayur’ itu terdengar seperti aib. Bu guru kok jualan sayur? Memalukan. Apalagi jika muridnya menyusun kalimat : sepulang sekolah Pak Guru pergi mencari rombengan.

Bisa dipastikan sang murid akan segera disetrap berdiri dengan kaki satu dan tangan kiri melingkari kepala, menjewer telinganya kanannya sendiri

Jadi tak usah bermimpi bangsa kita akan mampu bersaing dengan Jepang suatu hari nanti, jika pola pikir begini masih terus dipertahankan.

Selama ini terus terang, saya seperti pengakuan kedua orang tua Izza. Bahwa saya tau, kurikulum sekolah tak banyak memberi manfaat—selain melatih logika (namun membelenggu pola pikir) dan lembaran ijazah, atau bersosialisasi barangkali.

Namun anehnya, pikiran saya selalu memiliki citra negatif terhadap seorang yang putus sekolah. Atau memilih keluar dari sekolah. Padahal saya sendiri punya teman yang betul-betul cerdas. Dia keluar dari sekolah karena tak ada biaya. Dan mulai merintis usaha.

Sebenarnya apa kelebihan saya dibanding dia?

Dari segi kecerdasan saya kalah dibanding dirinya
Wawasan
Pengalaman
Kreativitas

Saya tak lebih baik dari dirinya. Walau tak sekolah, wawasannya luas. Pengalamannya banyak. Kreativitasnya jangan ditanya. Rasa-rasanya hanya selembar ijazah. Ya selembar ijazah keberuntungan saya yang tidak dia miliki.

Jadi mengapa hanya karena selembar ijazah saya merasa lebih keren darinya? Mengapa? Mengapa? Oh Mengapa minuman itu haram?…hihihi….(kenapa jadi lagunya bang Rhoma kebawa-bawa nih?)

Tanya kenapa?

Karang. Lu kenapa bisa ngelantur jauh banget. Ini resensi atau curhat?!

Hahaha…baiklah kembali ke DUNIA TANPA SEKOLAH

Barangkali buku ini adalah protes M. Izza Ahsin. Seorang anak yang terobsesi menjadi penulis. Dia ingin fokus. Dan tak ingin segala hal sepele membuang waktunya. Kegiatan sekolah yang menghanyutkan ide-idenya menulisnya ke laut.

Ini kisah perjuangan Izza meyakinkan kedua orang tuanya tentang konsep berpikirnya yang barangkali tak lazim untuk kebanyakan orang—apalagi anak seusianya. Bahwa sekolah telah menghambat kreativitasnya. Sementara orangtuanya begitu kuatir akan masa depannya. Izza justru begitu yakin akan dirinya. Dia yakin bahwa orang gagal adalah orang yang berhenti berusaha. Bahwa Tuhan pasti akan memberi keberhasilan pada orang yang terus berusaha. “jika jatuh, aku akan bangun lagi. Jika jatuh lagi, aku akan bangun lagi. Jika jatuh lagi-lagi dan lagi, aku akan bangun lagi-lagi dan lagi. Jika 99 kali jatuh. Maka 99 kali aku akan bangun

Dia ingin total.

Untuk itu dia menurunkan nilainya dari 9 ke angka lima. Agar orang tuanya mengerti bahwa dia sudah tak mau lagi sekolah

Sesuatu yang mengagumkan sebetulnya. Satu-satunya penghalang adalah dia duduk di usia sekolah. Di lingkungan yang mempunyai budaya sekolah adalah nomor satu, yang lainnya baru nomor dua dan seterusnya. Di lingkungan yang menstereotifkan anak yang tidak sekolah adalah anak gak genah

Saya sendiri yakin, Izza akan menjadi penulis yang cemerlang.

Untuk ukuran seorang anak berusia 15 tahun, tulisannya cukup berbobot. Bahasanya ringan dan lancar. Tidak bertele-tele. Penguasaan kosa katanya bagus. Perbendaharaan kalimat yang evokatif juga telah dimilikinya dengan cukup memadai. Hingga apa-apa yang dipikirkannya. Ide-ide yang ingin disampaikannya mengalir menarik.

Berbahagialah anak yang ortunya melek home schooling (deschooling.

Sebab ketika mereka mudah mendapat dukungan orangtua dan fasilitas, Izza harus berjuang mati-matian, bertengkar berbulan-bulan dengan kedua orangtuanya, terutama ayahnya demi untuk mempertahankan prinsip yang diyakininya. Izza memperjuangkan masa depannya sendiri. Menciptakan home schooling dengan metodanya sendiri. Boleh jadi dia lebih tahan banting daripada mereka yang tak pernah mengalaminya. Sebab dia tentu telah mempunyai pertimbangan yang matang untuk menanggung konsekwensi jalan yang ditempuhnya. Dan untungnya kini orangtuanya mendukungnya.

Selesai baca bukunya saya jadi membayangkan kata-kata Izza...“Saat teman-temanku nanti sibuk menenteng-nenteng ijazah buat melamar kerja. Izza sudah jadi penulis terkenal hehehe…”

Ah Izza tekadmu memang luar biasa. terus terang saya jadi iri. Seperti dirimu sebetulnya saya sekolah juga terpaksa. Saya benci sekolah. Membaca kisahmu jadi teringat lagi betapa menderitanya saya menunggu bel pulang selesai. Menghitungi hari dan rasanya bahagia jika sudah hari jumat. Andai bisa memilih. Saya setuju denganmu. Sekolah mungkin cocok untuk sebagian orang, namun belum tentu cocok dengan sebagian lainnya. Harus ada yang berani membongkar sistem gila ini.... biar kaum sekolahmania mencibir Saya kan tetap mendukungmu.... AKU MENDUKUNGMU. AKU MENUNGGU KESUKSESANMU. BIAR KAU BERPIJAR. BIAR MEREKA MELIHAT CAHAYAMU!

Baca. Baca. Baca
Baca. Baca
Baca.

Buku yang jadi referensi menulis resensi ngaco ini :
Dunia tanpa sekolah – M. Izza Ahsin
Siapa bilang “bodo” nggak bisa jadi PENGUSAHA

(saya posting pertama kali di intranet djp)

5 comments:

yudha said...

artikel yg keren-thx

Anonymous said...

Benar-benar Tulisan yang Inspiratif

Ivan Ds said...

Bagus, aku dukung.
Aku sebetulnya juga tidak menyukai sekolah.
Karena sekolah memang bukan satu2nya jalan mencapai kesuksesan

Dian said...

artikel yg inspiratif ...izin co pas ya tks

Anonymous said...

Sebetulnya saya setuju banget dengan apa yang bung karang dan izza tulis, karena saya org yg sangat membenci sekolah, tetapi setelah punya anak memang agak lebih aman jika dia sekolah kecuali jika dia bisa menyakinkan kami sebagai org tuanya dengan keteguhan hatinya yg cukup akan jadi apa dia tanpa sekolah baru mungkin kami ijinkan. Intinya butuh bukan hanya sekedar keluar dari steriotip yg dibutuhkan sang pendobrak tetaoi lebih ke konsistensi dan daya tahan yang dibutuhkan, jika itu tidak dipunyai secara cukup lebih aman dia tetao bersekolah.