.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Monday, December 31, 2012

tentang kebebasan

"Man is condemned to be free; because once thrown into the world, he is responsible for everything he does. It is up to you to give [life] a meaning." ― Jean-Paul Sartre

Afriyani, sopir xenia maut yang menewaskan 9 orang divonis 19 tahun penjara. 15 tahun karena mengemudikan kendaraan dalam keadaan yang membahayakan orang lain. 4 tahun karena kepemilikan narkoba. Malam itu saya liat beritanya di televisi di tempat tukang bubur langganan saya. Bukan sengaja nonton tivi sebetulnya, tapi kebetulan aja saya lagi beli bubur buat bokap dan nyokap. Pantas tempo hari waktu mau jalan kerja banyak sekali polisi di depan gedung pengadilan jalan gajah mada.

        Ketika vonis 15 tahun dijatuhkan oleh pengadilan tinggi jakarta pusat banyak keluarga korban tidak puas hingga sidang sempat ricuh. “9 nyawa hanya diganjar 15 tahun? Harusnya dimatiin aja” Ujar seseorang yang protes. Terlalu ringan menurut mereka.

        Jika melihat nyawa yang hilang akibat perbuatannya, ya keliatannya tak adil. Tapi apa boleh buat, Afriyani memang bukan sengaja membunuh dan bukan pembunuh berencana. Menurut hakim dia bahkan tidak masuk pembunuh dalam katagori pasal 338 KUHP. Vonis 15 tahun tahun itu bukan dari pasal 338 KUHP lho, tapi dari UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

        Anehnya begitu saya baca tuh undang-undang, ternyata sanksi terberatnya hanya pidana 12 tahun penjara. Hakim memberi tambahan 3 tahun dasarnya darimana ya? Mboh. Jika dilihat dari undang-undang ya ini tidak adil buat Afriyani. Tidak fair sebetulnya jika mengambil keputusan karena tekanan publik. (Eh saya bukan ngebela Afriyani ya)

        Memang kalo kita baca undang-undang di Indonesia, kita hanya bisa menarik nafas dan mengurut dada. Sudah hukumannya tergolong ringan ditambah banyak pasal-pasal karet. Pembunuhan dengan sengaja hukuman terberatnya hanya 15 tahun penjara. Itu paling berat lho. Berarti bisa aja pembunuhan itu dihukum hanya 10 tahun, atau 5 tahun, mungkin dengan remisi bisa jadi tinggal 3 tahun saja. Tinggal bagaimana hakim saja.

        Nyawa diganti 15 tahun penjara apa pantas ya? Harusnya nyawa ya balas nyawa. Death sentence or life sentence macam di Amerika sana. Lho kok saya jadi ngelantur ke sana-sana halah…

        Secara pribadi saya menilai Afriyani bukan pembunuh. Itu kecelakaan. Hanya saja yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu prilakunya yang songong : wong lagi ngefly kok nekat nyupir mobil. Kalo pertanyaannya apa kagak ada otaknya ni perempuan? Ya emang saat itu dia lagi kagak ada otaknya. Orang ngefly kok disuruh mikir hehehe…

        "Orang ngefly berat itu kayak orang mimpi" Kata Iman Jaya, temen saya. "Coba lo lagi ngimpi. Ada cewek telanjang di tempat tidur lo. Ya lo garap aja. Emang ada pikiran takut itu dosa? Atau tuh cewek bakal bunting dikemudian hari? Kalo ada pun pasti lo akan abaikan" Lanjut Iman Jaya. "Orang kalo hilang kesadaran, yang ngendaliin otak hanya dua, nafsu dan insting. Pikiran mah udah ditendang nyebur kelaut…"

        "Apalagi ngineks bawaannya berani aja. Orang lagi ngineks, disuruh berantem lawan sepuluh orang juga berani" Iman memang pengalaman dengan yang ini. Hanya saja dia nggak senaas Afriyani yang nyopir dan nabrak orang.

        Temen dari temen saya di Bandung yang pada pulang dari diskotik saban malam, banyak yang sering nyupir sambil mabok. Mungkin mereka beruntung karena pulangnya jam empat pagi, masih belom banyak orang di jalan. Mungkin juga mereka nggak semabok Afriyani. Mungkin juga mereka masih banyak yang doain hingga nggak ketimpa musibah. Mungkin juga waktu mereka normal banyak ngelakuin amal baik. Mungkin juga mereka masih dikasih ditunggu kesempatan tobat ama Sang Pencipta. Entahlah...

19 tahun di penjara.

Dari hidup merdeka, makan enak, minum enak, tidur nyenyak. Hura-hura bareng temen. Party, dugem, joget-joget, mabok hingga pagi. Tiba-tiba dibangunkan kenyataan telah menewaskan 9 orang dengan vonis 19 tahun penjara. Barangkali bagi orang yang percaya numerologi, angka 9 sepertinya telah menjadi angka kutukan buat Afriyani.

        Mungkin Afriyani telah mencubit pahanya sendiri seperih-perihnya. Atau menampar berkali-kali pipinya sendiri. Mencoba bangun, dan berharap ini hanya mimpi.

        Jika umur Afriyani sekarang 29 tahun. 29 tahun ditambah 19 tahun adalah 48 tahun. Habislah masa muda perempuan itu. Mana belom menikah pula. Keluar penjara umur 48 tahun. Can you imagine? No job, no carrier, maybe no money. Ya urusan ekonomi. 48 tahun mau kerja, kerja dimana? Wiraswasta mungkin, atau dia punya banyak kontrakkan. Entahlah

        …and no honey? Di umur 48 tahun apa masih ada lelaki yang mau mempersunting dia? 48 tahun dan bekas narapidana dengan masalalu suram, pemakai narkoba.

        Memang sih jodoh ditangan Tuhan. Siapa tahu di penjara dia nanti bertemu jodohnya. Siapa tau ada lelaki yang simpati dengan keadaannya. Siapa tahu… ah kenapa saya terlalu sok tau meramal masa depan orang. Memangnya saya ini siapa…

        With no less respect to the victims. 19 tahun penjara, secara psikologis adalah hukuman yang luarbiasa berat. Ya saya tau keluarga yang kehilangan anak akan bilang : "Lo nggak tau rasanya kehilangan anak. Coba bayangin, anak yang udah susah payah lo rawat mati ditabrak si gendut itu apa nggak ngenes"

        Ya ngenes. Takut saya ngebayangin anak yang kita sayang-sayang dihajar mobil ngebut. Ngeri saya ngebayangin suara pinggang mereka patah atau kepala mereka pecah. Ngilu banget ngebayangin mereka terhajar aspal dan lumat dilindas roda mobil arrrghhh… Ibunya pasti berjuang untuk mengusir bayangan itu dari kepala mereka.

        Namun kematian siapa dapat lari? Mereka harus direlakan pergi. Yang ditinggal pergi akan hidup dengan rasa kehilangan yang mendalam. Mereka yang menyayangi akan mengingatnya sepanjang hidup. Itu menyakitkan. Bagaimanapun hidup mati udah diputuskan Sang Pencipta. Entah dengan bagaimanapun jalannya. Semoga waktu akan mengobati rasa kehilangan itu.

Tapi bagi Afriyani?

Mungkin tak pernah terpikir oleh Afriyani, bahwa dirinya akan menghabiskan 19 tahun di penjara. Hidup di dalam sel, hanya mampu keluar berjalan-jalan ditempat yang mungkin lebarnya hanya dua kali luas lapangan sepakbola. Tempat yang dipagari tembok tinggi dengan kawat berduri.

        Shit happen.

        Big shit truly happen in her life.

        Dia menangis tersedu-sedu. Barangkali sudah berhari-hari dia menangis. Shock. Mimpi buruk. Terus menerus cemas. Tak enak makan. Gelisah selalu. Tak enak badan. Stress dan entah apalagi. Sejak pagi naas itu hidupnya turn over 180 derajat. Siapa sangka?

        Ada banyak orang mengkonsumsi narkoba. Kenapa hanya dia yang nabrak orang. Tak tanggung-tanggung sembilan orang sekaligus. Kenapa dia yang nyetir xenia itu. Mungkin jika ada mesin waktu dia akan kembali ke malam sebelum kejadian guna menjotosi dirinya sendiri sampai kelenger agar tak pernah ada kejadian itu. Mungkin jika dia bisa lari ke Timbuktu dia akan lari ke Timbuktu. Hidup di sana. Menghabiskan sisa hidupnya, daripada dikurung dalam jeruji penjara.

Allah Maha Bijak, Maha Tahu dan Maha Berkehendak. Dan saya tak hendak menghakimi. Hanya berupaya mencari hikmah dari peristiwa...

Seperti udara. Kebebasan adalah nikmat yang sering manusia lupakan.

2 comments:

tengkuputeh said...

Selalu hadir membawa kesegaran. Sulit mendefenisikan adil bahkan di negeri yang penuh keadilan, apalagi di negeri yang keadilan itu samar. Saia senang mahaguru saya telah kembali, yang sering2 ya Kang. :D

Yandrie rachman said...

betapa semrawutnya negeri ini,,, semakin lengkap dengan mental2 manusiana yg bobrok.

Yandrie