.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Saturday, January 12, 2008

the class...58....

Ini dia buku yang pernah saya cari sembilan tahun lalu.
Membaca The Class kita dibawa Erich Segal pada suasana kampus Harvard tahun 1958. Suasana belajar yang penuh tekanan. Kompetisi akademis berbaur dengan egoisme dan arogansi intelektual mahasiswanya dalam mengaktualisasikan diri mereka. Kegilaan, ambisi, dan gejolak serta gairah muda para tokohnya yang mengalir liar. Bagaimana anggota 58 kehilangan kendali terhadap diri mereka tanpa mempunyai daya untuk melawan. Tertelan arus yang tercipta bagai badai twister.

Ada berbagai macam kisah disini.

Daniel Rossi, pemuda berperawakan ceking namun berbakat besar sebagai pianis masa depan yang mati-matian berusaha menyenangkan hati sang ayah. Jason Gilbert Junior, pemuda tampan nan atletis yang menjadi pusat sensasi gadis-gadis Radcliffe. Andrew Eliot yang terbebani oleh bayang-bayang leluhurnya. Ted Lambros yang harus berjuang keras mengatasi kesulitan ekonominya agar tetap bisa bertahan di kampus para genius ini. David Davidson yang harus diangkut ke rumah sakit jiwa karena depresi. George keller. Dick Newal. Dan teman-teman mereka harus menghadapi hari-hari keras di sini.

Setiap alumni kelas 58 menyimpan kenangan-kenangan mereka sendiri. Kelas 58 adalah arena mereka bertarung. Mencari jati diri. Mengejar ambisi. Mewujudkan harapan. Melarutkan kesenangan.

Mereka harus berjuang agar eksis.

Agar tetap waras.

Agar tidak menjadi junkies—pecandu obat.

Agar tak mengikatkan kabel telepon ke leher, atau mengiris nadi pergelangan tangan, atau terjun ke sungai Charles. Setelah menang menghadapi semua itu—diri mereka sendiri—barulah mereka bisa mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan ketatnya persaingan di kelas. Seperti kata Erich : hampir setiap dari mereka adalah pembaca pidato perpisahan sekolah menengah mereka. Dapatkah mereka mengulanginya lagi di Harvard. Ada ratusan juara satu di sana. Namun hanya akan ada satu dari juara satu itu yang akan mengulang kembali prestasi sekolah menengah mereka.

Novel ini kilas balik. Tentang kisah yang mereka lalui 25 tahun lalu. Tentang kenyataan yang mereka hadapi kini.

Ini adalah barisan peristiwa. Dimana cerita ada dikenangan para tokohnya yang sedang bereuni. Yang berhasil. Yang biasa saja. Yang tenggelam.

Novel ini penuh warna seperti Dokter.

Sekitar tahun sembilan puluh enam sembilan puluh tujuh saya membaca novel Dokter karya Erich Segal. Dan saya langsung jatuh cina eh jatuh cinta. Langsung saja saya mengoleksi novel-novelnya yang lain. Seperti Love Story, Oliver’s Story (kelanjutan Love Story), Only Love. Padahal sebelumnya saya tidak menggubris sama sekali Love Story walaupun banyak dengar promosinya. Entah dari cover buku itu sendiri. Maupun dari orang yang telah membacanya. Karena saya pikir LS itu sama seperti novel-novelnya Barbara Cartland—saya tak suka novel Barbara Cartland, mohon maaf buat penggemar Barbara. Maka begitu pula anggapan saya terhadap The Class.

Namun setelah iseng-iseng membeli Dokter—saat itu saya tertarik karena tebalnya(sekitar 950 halaman dengan tulisan kecil-keci)l—dan melahapnya. Saya jadi Erich Segal Story’s Mania. Saya kecanduan dongeng chauvinis Harvard ini. Setelah dapat novel-novel lainnya saya pun memburu The Class. Namun…

The class sold out!

Di toko-toko buku nggak ada. Saya heran mengapa tidak dicetak ulang oleh gramedia. Barangkali tidak ada perjanjian cetak ulang dengan pihak penerbit resmi novel Eric di barat sono. Setau saya urusan novel luar nggak segampang novel terbitan karya anak negeri.

Khas Erich segal dalam gaya penceritaan adalah tokoh-tokohnya terkesan angkuh—berbeda dengan tokoh-tokoh rekaan Grisham yang humble nggak jarang pesimis. Agak menyebalkan sebetulnya. Namun narasinya bagus, dialognya sangat kuat dan mengena. Saya jarang mendapati Erich mengumbar kata-kata yang tak perlu dalam novelnya. Setiap dialog rasanya dipikirkan dengan masak. Itu mungkin barangkali sebabnya dia tak menerbitkan banyak novel. Novelnya sedikit. Namun kualitasnya oke.

Mari kita nikmati dialog rekaan Erich Segal dalam The Class. Ini adalah dialog antara Daniel Rossi salah satu anggota kelas 58 dengan petugas sekretariat saat mendaftar sekaligus mencari kerja lowongan kerja sebagai sebagai pianis cabutan :

“Jangan berharap, Nak” petugas sekretariat mengingatkan. “Kami punya sejuta pemain piano yang menganggur. Terus terang, satu-satunya lowongan bagi pianis ialah di tempat-tempat suci. Tapi kau tau sendiri. Tuhan hanya membayar upah minimum” Sambil berkata, petugas itu mengarahkan kuku panjangnya yang bercat merah ke kertas-kertas putih kecil yang tersemat di papan pengumuman. “Pilihlah tempatmu, Nak”

Setelah meneliti secara cermat berbagai kemungkinan yang ada, Dany kembali dengan dua lembar kertas.

Ini cukup bagus buatku” Katanya. “Pemain organ pada hari jumat malam dan satu pagi dibiara malden, dan minggu pagi di gereja Quincy. Apa lowongan itu masih tersedia?”

“Itu sebabnya kertas-kertas itu masih tergantung di sini. Tapi seperti yang kau lihat, roti yang mereka tawarkan sama kecilnya dengan biskuit Rizt”

“Yah” Danny menyahut, “Tapi aku benar-benar harus memanfaatkan setiap sen uang yang bisa diraih kedua tanganku. Apakah banyak permintaan untuk mengiringi acara dansa pada sabtu malam?”

“Wah, kau cukup kelaparan rupanya. Harus menanggung keluarga besar atau bagaimana?”

“Bukan. Aku mahasiswa tahun pertama di Harvard dan membutuhkan uang untuk bayar kuliah”

“Kenapa orang-orang Cambridge yang kaya tak memberi beasiswa kepadamu?”

“Ceritanya panjang” Jawab dany agak canggung. “Tapi kuharap kau tak lupa padaku. Bagaimanapun aku tetap menghubungimu”

“Aku tak akan heran, Nak”

Seperti yang semua orang tau. Kekuatan novel Erich Segal adalah kekuatan dialognya. Erich dapat membuat dialog yang amat memikat hampir disetiap kesempatan dalam novelnya. Menjadi ciri khas Erich adalah ironi yang diciptakannya hingga dialog dibuat satir yang kadang hiperbola dalam kerangka praktis. Dialog ini pula yang mengesankan tokoh-tokoh di dalamnya terkesan angkuh.

Kami punya sejuta pemain piano!

Benarkah ada sejuta pemain piano? –itu hiperbolanya. Bukankah itu mematahkan semangat sang pencari kerja? Itulah tujuannya petugas sekretariat diberi dialog demikian oleh sang pengarang agar tokoh utama tidak berharap banyak dan siap menghadapi kenyataan yang ada.
Dan Erich tak mengungkapkan kecilnya upah dengan cara biasa jika menjadi pianis di gereja. Namun dikatakannya : Kau tau sendiri. Tuhan hanya membayar upah minimum. –dialog dibuat seperti satir rada sinis, namun berkesan hal yang lumrah diucapkan

Maaf. Saya tak berbicara tentang moral cerita novel-novel Erich Segal. Nggak usah dibahas lagi. Buruk. Tidak layak ditiru! : Orang-orang yang nggak percaya agama. Pergaulan barat yang bebas. Membela yahudi—yahudi saat itu banyak dimusuhi dimana-mana, sama seperti kulit hitam. Saya nggak tau apakah dia melihat itu dari kondisi objektif atau ada maksud tertentu. Saya hanya membahas dari segi sastra.

Jika teringat The Class saya teringat novelnya Fira Basuki yang judulnya Biru. Dari segi ide cerita saya pikir Fira terinspirasi novel ini. Ceritanya tentang reuni dan kisah tokoh-tokohnya. Apalagi The class terbit lebih dulu. Bahkan jauh sebelum diterjemahkan ke bahasa Indonesia tahun 96-97di barat sono novel ini udah sukses berat. Tapi tunggu dulu. Jangan samakan novel ini dengan novelnya Fira.

LAEN BOS!

Jika anda teliti membaca novel-novel Fira Basuki maka anda akan menemui kenyataan berikut ini : Terlalu mubazir kata-kata. Terlalu bertele-tele. Narasinya yang tak menawan. Dialognya, membahas hal-hal yang tak perlu. Untuk itulah saya sesungguhnya bingung mengapa kakak perempuan saya suka novelnya Fira.

Karena udah kadung ngomongin novelnya Fira sekalian aja kali ya kita bahas kenapa dialog Fira saya bilang boros dan nggak bertele-tele—sekalian numpahin uneg-uneg. Mari kita simak dialog Fira Basuki dalam novelnya yang berjudul Biru. Pada halaman pertama anda langsung disodori :

“Ting tong!!!”
“Mbooook….!”
“Siapa ya pagi-pagi begini?”
“Mana aku tahu bang? Aduh….Mbooook”
“Ya, Nyonya?”
“Mbok, tolong, pintu”
“Ya”
Aku menggeleng-geleng kepala melihat si Mbok tergopoh-gopoh sambil menjinjing ujung jariknya.

Coba anda perhatikan petikan dialog diatas. “Ngerti?”

Jika anda nggak membacanya dua kali atau tiga kali itu bukan karena anda otak anda mengalami redudansi efek—hardisk kalee. Atau anda mengalami gejala dyslexia. Atau karena ada maksud tertentu dibalik dialog itu. Jujur aja teman-teman saya yang lain juga pertama mengalami gejala-gejala yang sama keringatan dan kejang-kejang ringan...hehehe.

“Membingungkan” Cetus Ri

Mengapa demikian? Itu karena dialog tersebut dibuat seperti rekaman keadaan sehari-hari. Tidak jelas siapa bicara dengan siapa.

Padahal dalam sebuah karangan. Dialog itu nggak sama dengan mendengar sandiwara radio. Jika sandiwara radio walo bingung kita masih terbantu intonasi. Tapi dalam karangan? Nothing!
Tanpa penjelasan lebih lanjut kata : bajingan dapat memilki seratus makna.

Barangkali terdapat maksud tertentu yang dapat membuat anda surprise di ending dialog?

Tidak.

Seperti saya bilang tadi, itu adalah dialog yang ditulis pengarang untuk menggambarkan keadaan ketika tokoh-tokoh didalamnya mendengar seseorang memencet bel rumahnya dengan cara yang amat tidak menarik! dari segi estetika.

Lalu sang tokoh menggeleng-gelengkan kepala melihat jalan si mbok yang tergopoh-gopoh sambil menjinjing ujung jarik. Dapatkah anda terka apa maksud sang tokoh menggeleng-gelengkan kepala? Apakah heran melihat ketergopoh-gopohan si Mbok? Bukankah itu adalah reaksi yang normal? Atau si tokoh setengah kesal dengan sang pembantu yang tidak mendengar bunyi bel atau mendengar namun kurang tanggap?

Kalimat ini tak layak ada. Karena nggak logis Ngambang!

Lalu kita lanjutkan pada paragrap berikutnya :

“Aduh! Cindy… tolong kau makan yang benar ya, sayang. Tanganmu yang kena selai jangan kau lapkan ke taplak meja… aduh itu taplak meja bordiran, mahal”
Giliran bang Rahman yang menggeleng. “Mama, makanya meja makan jangan dikasih taplak mahal. Lagipula namanya juga anak-anak…”
“Pa, anak-anak harus diajar disiplin dan menghargai barang. Makanan diberantakin, taplak dikotorin… nanti apalagi?”
“Maaf Ma” Ujar Cindy lirih. Anak berusia tujuh tahun itu menunduk dan kemudian berdiri menuju ayahnya.
“Ya sudahlah. Mana kakakmu?”
“Kayaknya Mita masih tidur” sahut Bang Rahman.
“Tidur? Jam segini masih tidur? Nggak ada kuliah apa?”
“Mestinya ya tidak. Sudahlah Ma biarkan saja”
Aku kembali geleng-geleng.

Bagaimana dialog ini menurut anda?

Menurut anda anak yang makannya masih acak-acakan itu tau bahwa taplak meja bordiran mahal harganya?

Lalu jawaban sang suami tak kalah kurang bijaknya. Alih-alih menjelaskan sang anak dengan cara yang lebih dipahami, malah memarahi istrinya di depan anak. Padahal dilain waktu pembaca diarahkan pengarang bahwa si Aku dan suaminya merupakan pasangan berpandangan dewasa dan berwawasan luas.

Kata berdiri sengaja saya tebalkan. Entah alfa entah lupa diedit. Yang jelas Fira sepertinya kurang teliti dalam kalimatnya. Berdiri menuju ayahnya itu tak logis. Yang logis beranjak menghampiri ayahnya. Pengarang tak usah mendirikan sang anak dari duduknya. Karena pembaca sudah bisa membayangkan bagaimana harusnya sang anak menghampiri ayah, nggak mungkin dengan merangkak.

Lalu jawaban sang suami yang terkesan memanjang-manjang dialog. Pertanyaan “Tidur? Jam segini masih tidur? Nggak ada kuliah apa?” itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Pertanyaan itu hanya luapan perasaan kesal. Sama sekali nggak butuh jawaban.

Dan si Aku geleng-geleng lagi

“Barangkali maksud FB si tokoh “Aku” punya sawan geleng-geleng” Celetuk Ri. Dia terpingkal-pingkal hingga mata dan alisnya menjadi sulit dibedakan..

“Hus!” Aku mendelik.

Tawa Ri susut. “Ups sori” Katanya. Terpahat ekspresi sesal di wajahnya. Maka FB Mania tolong maafkanlah teman saya yang kabarnya masa kecilnya kurang bahagia itu. Begitulah Ri saya yang ekspresif.

Lanjut laghee…

“Ndoro, ini ada surat” Ujar si Mbok.
“Pagi-pagi? Pakai kurir pasti… Apa ya, Mbok?” Tanyaku melihat amplop lumayan besar berwarna biru

Perlukah kalimat kedua? Jawabannya adalah TIDAAAAAK! “Pagi-kurir-nanyambok itu Kagak Perlu. Itu menjenuhkan!” Teriak Ri histeris sambil guling-guling. Maklum obatnya lagi abis.

Dan begitulah yang akan anda temui hampir di setiap halaman dalam novel berjudul BIRU setebal 340 halaman karya Fira Basuki. Nggak heran saya maupun Ri nggak sanggup membaca sampai selesai. Ri hanya mampu setengahnya. Katanya seperti digulag. Saya nggak jauh lebih baik dari dia. Itu juga dengan perjuangan hiduplah indonesia raya, berharap akan ada keajaiban seperti firework in the fair ground! dalam novel tersebut. Namun sampai halaman terakhir nggak ada lotre yang saya harapkan itu.

Yang ada habis baca novel ini, Ri, temen saya stress. Stress karena merasa nggak normal. Kenapa kakak saya suka dia nggak. Dan saya? Saya juga pening karena harus menelan halaman-demi halaman yang membosankan demi rasa penasaran.

Tak heran A.S. Laksana yang pernah membahas dialog dalam novel ATAP Fira Basuki mengatakan dialog Fira mengerikan!

Dan saya bilang dialog novel Biru : HORRIBLE!

“Cukup karang – dan sebaiknya kamu hati-hati di jalan“ Hardik kakak saya.

Iyah.

Buat penggemar novel-novel Fira Basuki mohon MAAF YA. Tidak ada maksud saya untuk menyinggung perasaan Anda. Saya tau membuat novel itu susah. Bukan saya nggak menghargai karya anak negeri. Banyak kok karya anak negeri yang ciamik punya seperti novel-novelnya kang Abik yang sangat kuat pada alur cerita, si Ikal Andrea Hirata yang mempesona dalam deskripsi dan filosophinya yang berbau sains, Langit Kresna Hariadi yang imajinatif. Saya hanya mengkritisi dari sudut pandang sastra. Bagaimanapun setiap karya musti dihargai.

DIALOG.

Apakah dialog sama dengan percakapan sehari-hari.

AS Laksana sebagai penulis menjawab : Tidak.

Saya sebagai pembaca menjawab : Bisa ya. Bisa juga tidak... (kayak iklan aja hehehe…)

Ada unsur estetika dalam dialog. Dan itu penting. Jika hal itu tidak diperhatikan pengarang, sang pembaca yang imajinatif akan mati kebosanan. Sebab dia tak menemukan sesuatu yang greget di dalamnya. Percakapan sehari-hari bisa saja masuk sebagai dialog. Asal mempunyai daya tarik dan sesuai dengan konteks cerita. Jadi tidak semua dialog bisa diposting ke dalam sebuah novel.

Mari kita bandingkan dengan dialog buatan Aditya Mulya dalam Gege Mengejar Cinta.

“Ti. Guah dong nanya”
“Paan?”
“Itu apah?”
“HP”
“Itu apah?”
“Handsfree”
“Kalo gitu kenapa kalo eluh nelpon masih megang hape”
“Ih mao-mao gue dong. Protes aja deh lo“
“Itu tuh handsfree”
“Iyah emang”
“Gunanyah agar hands kita, FREE. Ngapain dipegang?”
“Gue ngerti nih orang-orang kek elo. Waktu kecil kurang temen”


Bagaimana?

Menggelitik bukan.

Itu dialog yang dibuat seperti rekaman percakapan. Hampir tidak jelas tujuan dialog tersebut. Namun ada alasan yang kuat kenapa dialog itu dimasukan Aditya ke dalam novel. Yaitu 1. dialog itu menarik dan lucu sesuai genre novel yang dipilihnya. 2. Dialog itu menggambarkan karakter Gege—sang tokoh utama—dengan pola pikirnya yang kekanakan dan menggemaskan. 3.Kenangan-kenangan Itulah yang menyebab Fathia jatuh hati pada Gege.


Berlanjut di part II....
tulisan ini pertama kali diposting di intranet djp

1 comment:

tengkuputeh said...

Guru, ku mohon menulislah lagi, karena kami rindu.