.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Monday, January 21, 2008

shanghai baby!

Namaku nikki, tapi semua temanku memanggilku Coco, yang diambil dari nama Coco Chanel. Coco Chanel seorang wanita yang hidup sampai usia hampir sembilan puluh tahun. Ia merupakan idolaku, setelah Henry Miller. Setiap pagi ketika aku membuka mata, aku memikirkan apa yang dapat membuatku terkenal. Hal ini telah menjadi ambisiku, hampir menjadi raison d’tre ku. Aku ingin menjadi pusat perhatian di langit kota laksana kembang api.

Well, saya suka buku ini.

Begitu paragraf pertama membaca buku ini saya memutuskan akan membawanya ke kasir. 19 Mei 2006 saya membelinya dari Gramedia Matraman. Beberapa bulan sebelumnya saya sudah sering melihat buku ini menggeletak atau menyelip di rak buku. Namun hanya acuh saja karena saya pikir buku ini sejenis novel-novel teenlit atau metropop yang membosankan. Namun ternyata saya salah. Buku ini beda.

Jika Anda menemukan novel dengan judul Gadis Shanghai dengan pengarang yang sama, itu merupakan novel yang sama. Itu cetakan pertamanya—saya mendapati cetakan pertama buku ini di toko buku langganan saya—dan menyesal membeli cetakan yang keduanya. Sebagai kolektor buku saya lebih suka cetakan pertama. Bahasa dalam novel ini begitu kaya. Wei Hui seorang pengarang wanita—saya bayangkan dia secantik wanita dalam cover novelnya—yang otaknya penuh dengan mutiara kata-kata. Dia banyak menghidupkan paragrap dengan metafora dalam mengungkapkan gagasan.

Dari segi cerita novel ini biasa saja. Jika Anda mengharapkan dengan membaca buku ini Anda akan menemukan banyak kejutan, maka Anda akan kecewa. Tapi jika Anda jenis orang yang menyukai keindahan kata-kata, namun bukan yang berbentuk puisi. Yah buku ini untuk Anda.

Jika Anda penulis. Anda pasti suka buku ini. Buku ini mengajarkan kepada saya. Bahwa pengungkapan yang biasa sebetulnya bisa menjadi luar biasa dan kaya makna serta memiliki arti yang dalam jika ditulis dengan imaji yang lepas. Dengan imaji yang lepas kita bisa menyusun metafora-metafora yang kuat. Mengubah gagasan yang remeh menjadi sesuatu yang bermakna dalam dan indah—tak heran dia menyukai Henry Miller.

Mari kita simak beberapa paragrap pertama dari bab yang judulnya keberangkatan :


Desember adalah bulan yang kejam. Tidak ada bunga lilac yang mekar digedung terpencil yang sudah berurumur satu abad. Tidak ada keindahan telanjang diatas tangga taman ataupun melewati hiasan restoran Takashi’s Le Gercon Chinois yang riang gembira di jalan Hengshan. Tidak ada burung merpati, tidak ada ledakan gelak tawa, tidak ada bayangan biru musik jazz. Gerimis musim dingin mengambang suram dan meninggalkan rasa pahit di ujung lidahmu. Kelembaban udara membuatmu membusuk, membusuk sampai ke otak. Musim dingin Shanghai terasa basah dan menjijikan, seperti menstruasi wanita.

Tian-tian memutuskan untuk bepergian. Setiap tahun pada musim ini ia akan meninggalkan Shanghai selama beberapa saat. Ia tidak tahan udara dingin dan lembab pada musim ini, bahkan sinar matahari yang jarang terlihat memancarkan cahaya abu-abu. Dan jika menyinarimu akan membuatmu merinding.

Membaca paragraf ini membuat kita berpikir : Hei bagaimana Wei Hui mengaitkan kelembaban udara dengan otak yang membusuk. Meski kelihatannya metafora yang keterlaluan, namun nyatanya mengena. Kita bisa membayangkan kuatnya perasaan sang tokoh dalam menyikapi cuaca. Memang begitulah seharusnya imaji pengarang. Dan perlu saya tambahkan paragaf-paragraf penuh metafora seperti itu banyak bertebaran dalam setiap bab di halaman buku.

Di paragrap lain kita temui bagaimana Wei Hui menggambarkan carut-marutnya Shanghai dari bingkai kacamata Coco :


Di jalan huanting terdapat banyak remaja china dan asing yang berpakaian seperti anak jalanan. Sekelompok anak laki-laki jepang dengan rolerskate terlihat seperti menaiki kupu-kupu ketika memamerkan tehnik masing-masing, rambut semiran mereka seperti kemoceng. Seorang gadis shanghai dengan bibir warna hitam sambil menjilati permen lollipop fruit treasur berjalan disebelah temannya dengan bibir warna perak. Sebagian orang merasa khawatir bahwa gadis-gadis seperti itu akan menelan terlalu banyak pelembab bibir murah dan mati keracunan, namun sampai saat ini belum ada laporan resmi yang menyatakan bahwa kejadian seperti itu benar-benar terjadi.

Diantara keramaian, muncul sekelompok pengusaha berpakaian rapi, salah satu dari mereka mengangkat tangannya dan menyapaku ramah. Kupikir pastilah ia melambai pada orang yang berada dibelakangku, jadi aku berjalan terus tanpa memperdulikannya. Namun ia terus melambai dan memanggil namaku. Aku memandanginya dengan perasaan terkejut


Asik kan?

Setau saya amat jarang pengarang Indonesia yang bercerita model begini—barangkali itu sebabnya Indonesia nggak pernah dapat nobel sastra, Pramudya Ananta Toer aja baru direkomendasikan. Kalo ada juga jumlahnya nggak banyak. Angkatan tua-tua. Angkatan muda masih kebanyakan hobi bikin chiklit. Belom mau bersusah-susah ria membuat karangan yang bergaya bahasa lumayan bagus.

Novel ini menceritakan seorang gadis Shanghai yang ingin jadi penulis terkenal. Nikki yang lebih senang dipanggil Coco. Sebagai gadis remaja yang tumbuh ditengah perbenturan peradaban—China yang mulai membuka diri terhadap dunia luar. Coco pun mengalami gegar budaya. Bergulat dengan kerasnya kehidupannya metropolitan. Kehidupan yang begitu bebas. Membongkar nilai-nilai china lama. Namun uniknya meski Coco prihatin dengan sikap pola kehidupan generasi muda kotanya. Kehidupannya tidaklah lebih baik dari mereka.

Jika Anda pernah membaca Angsa-angsa Liar-nya Jung Chang dan pikiran Anda masih hidup masih dalam bayangan China lama dengan kehidupan rakyatnya yang begitu seragam dan anak-anak muda yang tak perduli pada 3F Revolution*), China jaman Mao tse tung berkuasa, maka bayangan Anda akan segera terkikis. Generasi China telah menggeliat jauh dari yang kita bayangkan dari segi budaya. Sebagaimana negara-negara lain di dunia. Negara ini juga terkena imbas buruk budaya global. Tidak heran bahwa buku ini dilarang dan dibakar di negeri China. Buku ini menggambarkan carut marutnya transisi budaya China baru. Kisah Coco dianggap telah membantu memberi semangat pemberontakan kaum muda terhadap nilai-nilai lama. Membenarkan tindak-tanduk mereka. Membuka aib mereka pada dunia luar. Budaya yang belum sepenuhnya diterima oleh generasi sebelumnya yang menganggap bahwa kebebasan lepas batas adalah sesuatu yang tabu.

Membaca novel ini mengingatkan saya pada Saman-nya Ayu Utami. Pikiran-pikiran nakal yang dibungkus dengan gaya bahasa yang indah. Novel ini bercerita rentang seorang perempuan metropolis yang gelisah. Yang bercita-cita menjadi penulis terkenal. Yang mempunyai kekasih bernama Tian Tian. Seorang seniman yang mempunyai menderita impotensi, hingga mereka melakukan kegiatan sex yang agak tak wajar. Meski amat mencintai kekasihnya, sebagai wanita normal ternyata Coco merindukan sex yang normal. Hingga dia akhirnya terperangkap pada suatu perselingkuhan panas dengan Mark, seorang bule asing yang telah berkeluarga.

Hanya itu?

Tentu saja tidak. Dari bola mata Coco kita bisa melihat apa yang dia lihat dan dari pikirannya kita bisa merasakan apa yang membuatnya gelisah. Tentang cita-citanya yang dia perjuangkan. Tentang sikap keluarganya. Tentang teman-temannya.

Membaca buku ini bagi saya seperti membaca sebuah diari seorang perempuan. Sangat mengasikkan. Dari segi komposisi tentu saja saya masih mengunggulkan Ayu Utami dalam novel Saman-nya. Alur cerita novel ini amat konvensional. Hanya ungkapan yang digunakannya cukup brillian. Jadi jika anda tertarik.

Cari novelnya di toko buku. Atau
Pinjam ke perpustakaan. Kalo ada hahaha….

*)3F Revolution = Fashion-Film-Fastfood

(first-posting on intranet djp)

2 comments:

insanbiasa said...

blog karang... maybe i knew u.
3f fabolous-familiar-fantastic
bukannya 3 f itu?.......
salah ya saya.

omiyan said...

maaf om numpang lewat dulu bentar