.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Monday, February 23, 2009

solitude is broken

dia terseret..

       tidak.
       tidak.
       dia menggeleng. mengusir. namun aliran kenangan itu tetaplah mengalir. menghayutkannya. berkali dia menarik nafas. menghembuskan gumpal asap. aroma kretek menguar. dia dapat menikmati aroma kretek yang khas bercampur bau nafasnya.

       “kira-kira apa ada kehidupan, disuatu tempat, di sana?” seolah dia bertanya pada dirinya sendiri. matanya menatap langit malam. kelopak malam merekah. indah bukan buatan. bintang-bintang berserak. dalam hening. dalam sepi. melumur waktu, seolah tak bertepi. seperti apa kita di matanya?

       sosok selain dia. mahluk selain dirinya yang sering memantul di pupil matanya mengangkat bahu.

       agak jarang momen-momen seperti itu terjadi padanya. barangkali juga pada gadis di sebelahnya. lumayan jarang, namun lebih daripada pernah. dia tak mengingatnya berapakali. dia tak hendak menghitung. dia tak hendak mengenang. namun kenanganlah yang menghampirinya.

       waktu berjalan ke depan. maka hiduplah yang membawanya kesini. sampai di sini. untuk hari ini. menghirup gumpal asap ini. menciumi aroma ingatan.

       “mengenang hanya untuk orang tua!” begitu lelaki itu mengulang. kalimat pavorit gadis itu yang sering berngiang ditelinganya. kalimat senada itu banyak terdapat dibuku-buku. namun gadis itu mendapatnya pertama kali dari pengarang brazil pavoritnya. sudahlah. kalimat selalu berulang, siapa yang pertama bilang biarlah hanya tuhan yang tau.

       saat lainnya dia mendapati helai-helai tawa itu. seperti halaman halaman buku, dengan cerita beraneka rupa. lalu dia akan menebak-nebak. potongan senyum berserak di
waktu lainnya, di

       tempat lainnya, dia tersenyum. menjumpai helai senyum.

       “senyum lin. senyum” dia berbisik ditelinga gadis itu. mencium sendiri aroma nafas kreteknya yang memantul ditelinga gadis itu. lalu berganti wangi rambut gadis itu. dari sisi itu. dari jarak itu. bening mata itu memantulkan kerlip bintang. “di sana sedang memandang kita juga, pake teleskop. tutupin jerawat kamu...”

       dia merasakan. emosi itu. dari telapak tangannya. seolah masih saja menempel di genggaman tangannya.

       lambaikan tanganmu.

       dia tau. dia paham. bahwa hatinya jatuh suka pada warna senyum yang dipersepsikannya sendiri. garis lengkung, tarikan bibir yang sulit ditafsirkan. ekspresi tawa. nada-nadanya. ayunannya. masih melangut di liang memorinya. dan berpendar-pendar disana.

       entah di kini.
       entah dimana. dia mendapati lagi raut instan itu.

       dia melihat wajah itu menjelma retan. pucat. lesi. tirus. pasi. pita senyum yang melambai panjang. irama tawa yang mengundang. hapus begitu saja oleh sekejap lesi yang bisu. seolah tak ada hari-hari sebelum itu. seperti tak ada yang disebut moyang-moyang hari yang dia namakan “kemarin”. seolah dia tiba-tiba hadir di situ dengan titipan penuh beban yang sulit dijabarkan.

       kau bisa memilih menikmati kehidupan ini utuh. bulat. berkelanjutan. simpul yang berkait-kait. namun bila kau merasa bosan. akui saja saat itu sebagai fragmen. kau dibingkai dalam suatu waktu permulaan. menuju titik, untuk mendapati titik lainnya.

dia ingat, kalimat-kalimat perempuan itu. jalinan kata yang keluar dari bibir merah muda. kata-kata yang serupa bisikan.

       dia memperhatikan wajah didepannya. seolah berupaya mengenalinya. menatapnya dalam-dalam. seperti hendak melukis raut wajah itu dalam kanvas otaknya. atau barangkali hendak memungut sisa-sisa yang masa lalu yang tersampir di mata itu. atau berupaya membaca masa depan apa yang akan dilihat bola mata itu.

       “liat apa?”

       suara itu mengusir dunia dalam kepalanya. membuatnya terjaga. belum sempat dia menjawab. perempuan itu meraih lengannya. merapatkan kepala di bahunya. membawa kakinya beranjak. perempuan itu melepas satu earphone dari telinga kirinya. menyumpalkan ditelinga kanannya.

solitude is broken ...
~ untuk seseorang, karangsati, 200209 ~


3 comments:

tengkuputeh said...

“mengenang hanya untuk orang tua!” begitu lelaki itu mengulang. kalimat pavorit gadis itu yang sering berngiang ditelinganya.

Hahahaha... Membuat Abu teringat kata2 seorang gadis. Sejarah hanya untuk orang yang rambutnya botak dibelakang....

Ada kesamaan pola...

omiyan said...

hhmm perlu pemahaman setiap sastra mu na...hehehehe makin mantap aja nih si akang teh

Baka Kelana said...

Wach...adem ceritanya jadi kembali kemasa lalu yang yang indah