.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Friday, February 27, 2009

dari novel q & a ke film slumdog millionaire


Yup saya baru nonton Slumdog Millionaire yang katanya menangin 6 katagori oscar itu. Sebetulnya sih bukan barusan. Melainkan sabtu kemarin. Cuma nulisnya baru sempet sekarang hehehe… Adapun yang bikin ambisi saya meletup-letup untuk nonton film ini tuh bukan karna nih film masuk nominasi award. Tapi karna nih film adalah adaptasi dari novel yang berjudul Q & A.

Saya baca novel perdana karya Vikas Swarup ini sekitar 2 tahun yang lalu. Kalu nggak salah inget Desember 2006. Sebuah novel yang saya ambil dari display karna tertarik pada covernya yang sederhana. Sebetulnya hanya sekedar liat-liat. Karna pengeluaran beli buku saya udah over limit bulan itu. Jadi andaipun ada novel bagus, saya hanya akan membelinya setelah gajian. Selain dirumah beberapa buku yang saya beli belon kebagian waktu santap.

Namun niatan saya yang hanya liat-liat itu berubah takala membaca beberapa lembar halamannya. Oh damn, novel ini wajib dibeli. Tepatnya wajib saya beli. Sekarang. Bukan ntar-ntar apalagi besok-besok. Terlebih nunggu gajian. Karna apa? Karna saya tak bisa menghentikan membaca. Sedangkan toko buku ini sebentar lagi akan segera tutup.

Maka meskipun saat itu saya lagi kena penyakit bokek pangkat dua belas, saya tetap bersikeras membawa novel itu ke kasir untuk ditukar dengan lembar isi dompet saya yang bulukan itu.

Saya yakin, walo keliatannya promosi novel ini kurang, sudah banyak bookworm yang baca novelnya. Buktinya resensinya aja begitu saya googling tersebar di mana-mana.

Novel Q & A ini sungguh beda dengan sekian banyak novel yang pernah saya baca. Idenya brillian. Penuturannya tangkas dan memikat. Ceritanya sangat imajinatif. Sampai-sampai saya tak sabar untuk membalik halaman demi halaman berikutnya.

"Novel ini sukar dihentikan, sebab begitu lo baca dia minta diladeni sampe habis. Kalo nggak lo sendiri yang akan penasaran" temen saya memprovokatori temennya, alhasil pada belilah si kutu-kutu itu.

Maka ketika saya diberitau oleh bunda ufa, bahwa salah satu novel yang pernah saya iseng resensikan di intranet djp ini difilmkan dengan judul Slumdog Millionaire, saya segera mencari tau, Slumdog Millionaire itu film dari novel apa? Begitu saya tau Q & A eh tukang pecel yang daritadi disamping saya ikut longok-longok laptop tiba-tiba melonjak kegirangan. "Akhirnya… Akhirnya sodara-sodara. Akhirnya…" (kumat mode on)

Saya pun dapat tugas mulia dari makhluk yang jika ketawa matanya tinggal segaris ini cari dvdnya ke tukang soto eh tukang dvd langganan saya, si Hendrik. Eh untungnya ada, tinggal dua. Begitu saya ambil satu. Dateng seorang mbak-mbak beli yang atu lagi. How lucky iam. Sebab rupa-rupanya tuh film udah masuk katagori the dead wanted. Dicari-cari orang. Huhuhu senengnya… bisa bikin tuh anak meringis.

Maka sebelum saya kasih ke dia saya pun "maen cina" dengan nonton duluan hehehe... (sst supaya pas nemenin dia nonton, saya bisa merhatiin "hal penting" lainnya hihihi...)

saya pun memutar filmnya dan … jreng…jreng ternyata...

Jauh beda dari novelnya. Ya iyalah… saya juga udah menduga hal ini. Barangkali jika ingin divisualisasikan sesuai dengan cerita novelnya bentuk yang paling memungkinkan adalah miniseri, atau semacam serial pendek gitulah. Dengan film yang hanya punya durasi 2-3 jam mana mongkin isi novel dipindahkan. Jika disingkatsingkat pun rasanya mustahil.

Mungkin bagi penonton Slumdog Millionaire yang pernah membaca novel Q & A. Menonton film ini seperti mereset ulang imaji yang terlanjur ditanam Vikas Swarup di liang memori mereka(termasuk saya). Lupakan Ram Muhammad Thomas dengan koin ajaibnya serta sahabat sejatinya Salim. Anggap saja takdirnya sebagai Ram dengan likaliku petualangannya dicabut. Lalu dia diberikan takdir baru sebagai Jamal Malik dengan Salim sebagai kakaknya.

Mungkin Ram akan protes. Hihihi…

Dalam novel nama Jamal Malik adalah Ram Mohammad Thomas. Sebuah nama unik yang mempunyai sejarahnya sendiri. Sedangkan Salim adalah sahabat Ram, bukan kakak Jamal. Tak tau mengapa di film nama Ram Muhammad Thomas diganti menjadi Jamal Malik. Mungkin produsernya mengantisipasi terjadinya hal-hal yang sensitif. Atau ada alasan lain. Entahlah...

Seperti saya bilang sebelumnya, bahwa secara keseluruhan cerita antara novel dan film jauh beda. Mungkin cocoknya bukan “film adaptation from” namun “film inspired by” (sok tau, dah lo rang…)

Barangkali satu cerita yang dicomot dari novel adalah kisah tentang Mehman, sang bos gelandangan yang kejam, tega membuat cacat anak buahnya (sang bocah-bocah gelandangan) agar dapat menghasilkan uang lebih banyak. Itupun ceritanya jauh beda dan dibalik-balik dari novelnya. Dalam novel yang suaranya bagus adalah Salim, sedang Ram suaranya ancur difilm sebaliknya. Dalam film Salim Menyelamatkan Jamal dinovel kebalikannya. Cerita tentang Ram jadi guide yang digambarkan Vikas dengan jenaka sekaligus mengharukan hanya dicomot idenya secuil saja.

Jika ada yang agak lebih mengejutkan saya maka hal itu adalah peran Salim yang sempat menjadi tokoh antagonis. Berkebalikan dengan karakter Salim dalam novel yang lugu dan polos. Jika di novel fokus cerita adalah bagaimana Ram dan Salim saling "menguatkan" diri menghadapi dunia jalanan yang keras. Maka di film, dunia jalanan telah menuntun watak Salim yang keras menjadi bandit jalanan. Hingga Jamal terpaksa harus berhadapan dengan kakaknya sendiri, Salim.

Film dan prosa memang mempunyai keunggulan dan kekurangannya sendiri. Hingga tak ada yang bisa mengklaim film lebih unggul dari prosa atau sebaliknya.

Dalam prosa cerita dipindahkan pengarang ke kepala pembaca melalui kekuatan kata-kata. Pengarang hanya kuasa memaparkan, bukan mendiktekan. Sebab imaji pembacalah yang mempersepsikan dan memvisualisasikan dalam alam imajinernya. Nasib sastra adalah sejauh mana kata-kata mampu mengsensasikan imajinasi di benak pembaca. Sedang dalam film penonton tak diberi ruang untuk menciptakan dunianya sendiri. Visualisasi telah mengambil peran itu. Ini bisa dianggap keterbatasan atau kelebihan tergantung dari sudut memandang saja. Kekuatan film bukan hanya dicerita dan kekuatan karakter yang diperankan tokoh-tokohnya. Setting latar, tata warna dan musik juga mengintervensi imajinasi pembaca. Paduan kesemua itu mampu menghipnotis penonton hingga mengalami ekstasenya sendiri. Ekstase yang berbeda dibanding membaca bukunya.

Whateverlah …

Terlepas perkara sama atau nggak, beda jauh atau dekat dengan novelnya, yang jelas film slumdog millionaire ini sangat oke punya.

Bagi saya pribadi yang berkesan dari film ini adalah gambaran tentang India. Ya, India dalam film ini, tak seperti gambaran film Bollywood yang pernah saya tonton. Film ini nggak menyorot rumah-rumah megah dengan paviliun luas dan pohon-pohonnya. Atau nyanyian dan tari-tarian massalnya. bagi saya setting film ini lebih real India. Gambaran India dalam film ini persis sama dengan penuturan dan foto-foto Agustinus Wibowo yang saya baca di kompas.com. India yang kumal dan kumuh.

Saya cukup puas menonton filmnya. Kalo untuk novelnya saya kasih standing ovation. Maka buat filmnya, Saya kasih two thums up. Bintang empat seperapat buat film ini. Salut buat sang sutradara, Dany Boyle. Tak heran film ini bisa menyabet 6 piala oscar.

~ saya lagi mijit-mijit idung. kira-kira responnya si mata segaris setelah nonton film ini gimana ya? ~


Buat yang pingin nonton filmnya tapi nggak nemu dvdnya bisa download di sini (full)

Dan yang ingin download soundtracknya bisa ke
sini atau di sini (kalo link yang itu broken)

note :
oh iya. sebagai informasi tambahan. novel ini dicetak ulang serambi, dengan cover dan judul beda dengan cetakan sebelumnya, judul barunya : teka-teki cinta sang pramusaji



7 comments:

tengkuputeh said...

Abu Penasaran untuk nonton filem ini, soalnya heboh banget. Pulang Lembur SunPol besok mau nyari ah, untuk mengisi hari minggu yang damai, hehehehe....

mas icang said...

jadi pingin baca novelnya mas daripada nonton filmnya. novelnya di gramed ada ngga ya?

Jifun said...

saya berjanji ketika sampai jakarta nanti akan segera ntn dvd-nya. kemaren2 gak sempet liat pas pulang.........

novnov said...

yahhhh belum nonton hehehe

karangsati said...

@tengkuputeh
jangan lupa baca bukunya...

@masicang
jangan lupa tonton filmnya (reverse mode on hehehe...)

@jifun
dijamin nggak nyesal

@novnov
nonton mbak hehe... (salam kenal)

ordinaryfamily said...

andai aku punya flas, kan kudonlot film ini..
andai makassar tak selalu diguyur hujan, kan kucari dvd bajakannya
ke ezy ah...cari augustus rush (slomdog millionare pasti belon ada)

hehehehe
alamat kublog yang baru :
http://10.254.120.215/blog/start/

jengtika said...

kereeeeeeeeeeennnnnnnn!!!!! pilem ini keren sekali, trus gak pake nyanyi dan nari seperti biasa (adanya kan di akhir pilem)

empat jempol dewh untuk pilem ini!