.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Sunday, April 8, 2018

night and serenity

please
serenity
ri,
aku mencintai malam, seperti aku mencintaimu. mencium sepi yang hinggap diujung rambutmu. membelai malam yang memercikan parfum rembulan. aku menggilaimu seperti tak pernah ada. sebab sesuatu yang tiada, menghapus smua yang serupa.

saat malam kita bicara tentang sepi yang rapuh. yang membawa kita pada kenangan belia, berlari-lari diantara halte dan bis kota. lalu tas kita terayun ceria. berusaha mendahului mimpi remaja. kugrafir namamu di kursi-kursi dan meja sekolah. Kupilok cintaku di tembok-tembok pesing. Hingga kuajak bicara seekor kucing bunting. Sungguh digigit cinta kala remaja menerbitkan gila tiada terkira.

saat kau pergi, aku berlari digorong-gorong terminal. di lorong-lorong mall hatiku memekik. Menyerapahi batang-batang beton, aku menyumpahi bon jovi

these days… these days these days the stars hang out of reach.
these days there ain't a ladder on the streets..

hingga waktu betul menelan, dan mendamparkan kita.

aku merenangi malam dalam sungai matamu. yang tak hilang walau dunia terpejam. yang terkekalkan dalam tabulasi ingatan.

aku menyimpanmu dalam ruang hening. dalam kaca bening. dan aku menyingkirkan smua serpih kata. yang pipihnya kerap menerbitkan luka.

(Baca Selengkapnya)

pecahan pecahan

sebenarnya saya pingin menghapus blog ini. mungkin tidak susah, hanya tinggal menarik nafas, menahannya beberapa jenak mengenyahkan semua keraguan, sebelum mouse saya mengklik delete confirmation yang ditanyakan blogger. dan setelah itu menyesal pun tak lagi berguna.

terlalu banyak tulisan nggak jelas di sini. tulisan yang sebenernya hanya orat-oret belaka, yang kadang nggak ada sangkut pautnya ama urusan pribadi. gumpalan kata-kata yang memenuhi kepala begitu saja. yang rasanya nggak jleg kalo nggak saya tuliskan. tulisan itu sendiri kadang saya nggak tau muncul dari mana. mungkin karna terinspirasi film atau dengerin lagu. barangkali karna curhat seseorang. mungkin juga habis baca novel.

tulisan-tulisan yang konyolnya, ditanggapi serius oleh beberapa teman saya. oh saya nyesel pernah bilang pada mereka ini tuh blog saya. kata-kata memang nggak bisa ditarik atau digulung seperti benang layangan. hingga mereka memandang saya dengan menambahkan satu poin yang saya menjadi kurang sreg karnanya.

saya hanya mo bilang :

di dalam dunia maya, dalam blog. orang bisa menjadi siapa saja. tergantung bagaimana dia hendak mencitrakan. tulisan mungkin refleksi pribadi seseorang. mungkin juga tidak. mungkin hanya satu sisi dari sekian banyak sisi, yang ia miliki. mungkin juga tidak sama sekali.

anonimitas barangkali adalah sumber kepalsuan, mungkin pula pusat kejujuran. namun bisa jadi bukan pula keduanya, mungkin ia hanya refleksi dari imajinasi. siapa hendak menghakimi imajinasi? apa tidak lebih baik mendakwa prasangka kepala sendiri?

“beberapa entry tulisan dalam blog ini berstatus undisplayed”

i think to let this blog stand and still...

"anything that u think about me, it's not me"

mohon maaf jika paragrap dari tulisan diatas mungkin seperti pecahan-pecahan yang tidak nyambung, sebab itu perasaan. yang menyambungkan antar paragrap itu adalah pikiran, ia sedang saya buang!

my active blog is here now

(Baca Selengkapnya)

Tuesday, April 25, 2017

tentang tempat

Photobucket
yesterday was a broken day
apakah tempat adalah bukti eksistensi?

apakah tempat adalah ruang dimana kita ada dan berada juga diakui.

hatiku selalu pergi. dari tempat dimana aku berdiri. ia pergi bersama bayanganku. Dan aku merindukannya setiap waktu.

aku merasa tidak disini. tidak juga disana. apakah kau pernah merasa seperti aku? tidak di mana-mana? berbahagialah jika tidak. sejujurnya aku ingin ditempat yang kau istilahkan disini. aku ingin memilikimu. aku ingin kau menemaniku. dan aku menemanimu. sepanjang hidupmu.
namun itu sulit kulakukan. hidup yang nyaman. hidup yang tetap. selalu membuatku gelisah. dalam tidurku, seolah ada suara yang memanggilku untuk pergi, dan pergi. hingga aku tak berdaya untuk menolak lagi.

aku ingin kau hentikan aku.
(Baca Selengkapnya)

Monday, November 3, 2014

utang...

please
please help
suatu hari saya ngobrol-ngobrol dengan seorang teman tentang utang. bermula saya sempet ngeluh bahwa ada teman yang susah bayar utang. lalu akhirnya saya tau dia adalah orang yang hampir tidak pernah memberi utangan pada orang lain. "utang itu bisa merusak pertemanan" katanya.

saya terhenyak.

kalimat ini memang bukan pertama kali saya dengar. ya saya sudah sering mendengarnya. sudah terlalu sering. "utang bisa merusak hubungan baik". menurut saya ya masuk akal. nggak salah-salah betul pendapat itu. kadang orang bisa marah kepada teman baiknya karena masalah utang. mungkin karena si teman tidak bayar-bayar. pura-pura lupa. menunda-nunda. atau memang tak pernah ada niatan bayar. atau memang dia memang tidak punya kemampuan untuk membayar. nggak jarang kita denger malah ada terjadi pembunuhan karena masalah utang-piutang. uh ngeri banget kan?

but, come on. rang

"kebayang nggak jika suatu saat kamu sangat butuh duit. nggak bisa atau nggak pingin pinjam ke bank atau yang sejenis dengan itu. sementara kamu nggak punya seseorang buat dipinjamin?" tanya ri membuat karang tertegun. "sulit membayangkan kalo hal itu gak pernah terjadi pada kamu" ri menjawab pertanyaannya sendiri.

"coba bandingkan antara keadaan kamu sangat nggak butuh duit dan nggak ada yang mau pinjamin. dengan keadaan kamu mempunyai piutang, namun piutang kamu itu sulit ditagih atau kemungkinan tak tertagih. kamu pilih yang mana?"

guys, apa gunanya teman jika tidak bisa dimintai tolong. baru utang duit kok. bukan suruh bantuin ngelawan perampok. dikit kok. nggak sampai jual laptop, atau lensa dslr, apalagi rumah,nggak!. baru utang duit kok. bukan utang nyawa. utang kok, bukan diminta. bakal dibayar kok meskipun mungkin kapan kapan. atau kalo inget. pasti dibayar : kalo bukan di dunia ya di akhirat. iya pasti, nggak ada yang bisa lari dari kewajiban bayar utang. jadi pemberi utang nggak perlu kuatir. kalo nggak bisa ditagih di dunia, pasti bisa ditagih di akhirat! pasti!

"nanti tuman. dikasih sekali malah jadi kreditor tetap"

biasanya memang begitu. seseorang yang berani diutangin, dilain waktu akan diutangi lagi dengan orang yang sama, dengan jumlah yang mungkin lebih besar. apalagi sering memberi pinjaman ke orang-orang. semakin banyak pengutang akan datang. sebab ya rekomendasi. jangan dikira rekomendasi nggak ada ya dalam utang-utangan gini. biasanya rekomendasi terjadi secara gak sengaja, contoh :

"eh gue lagi butuh duit nih. anak gue sakit. pinjem duit dong. bulan depan gue ganti"
"sama. lagi bokek"
"haduh tolong dong"
"ama si a aja tuh. dia gampang orangnya"

maka datanglah orang itu ke anda. makin banyak anda berani memberi utang maka akan makin banyak orang datang berutang kepada anda. sebab nama anda makin tenar (dikalangan pengutang hehehe). sekali dua kali, beberapa kali anda menolak memberi utang. maka pengutang akan mundur satu persatu.

orang bijak bilang : hidup itu tolong menolong. tapi sama orang bakhil kalimat bijak itu jadi : hidup itu memanfaatkan atau dimanfaatkan.

ama orang dengki kalimat itu jadi : hidup itu ngadalin atau dikadalin

"siapa sih yang mau dimanfaatin?" si karang ketus.

"emangnya jelek dimanfaatin? asal bukan untuk hal yang buruk why not? bukankah manusia yang paling baik itu yang paling bermanfaat buat orang lain?"

"iya kalo bermanfaat gue setuju, ri.tapi dimanfaatin no! sakiit!" teriak karang. "sakitnya tuh di sini!" si karang mulai lebay.

"tau nggak rang… nanti di akhirat orang pada nyesal"

nanti pemberi utang di akhirat pasti nyesel. si pemberi utang akan nyesel karena utangnya lekas dibayar, hingga bayaran yang dia dapat sedikit. si pemberi utang nyesel karena hanya beberapa orang yang ngemplang utangnya. si pemberi utang nyesel karena hanya mengutangi separuh dari yang dipinjam. si pemberi utang nyesel kenapa menagih utangnya. si pemberi utang nyesel kenapa harus cerita-cerita ke orang lain tentang duitnya yang dia utangin ke si fulan dan si fulan. si pemberi utang nyesel karena pernah merasa nyesel ngutangin duitnya yang seitu-itunya buat si fulan yang dianggapnya nggak tau diri. nyesel dan nyesel dan nyesel… nggak selesai selesai namun nggak lagi berguna.

yang nggak berani ngasih utang jangan ditanya. nyeselnya ke ubun-ubun. apalagi pake bo’ong. wah yang ini kalo dia dikasih martil ditangannya maka martil itu akan dihantamkan ke kepalanya berkali-kali sambil berkata : medit! medit!! medit!!! bodoh sekali aku ini, udah medit jadi tukang bohong lagi.

"rang. nggak ada perbuatan yang sia-sia. memangnya kalo kamu ngutangin ke orang terus orang itu nggak bayar, atau mangkir karna memang benar-benar nggak punya duit kamu rugi. sama sekali nggak, asal lo ikhlas. allah yang akan ngebayar piutang kamu. kalo nggak di dunia ya di akhirat…."

(iya ri. setuju banget aku ama kamu. buat diomongin emang enak, tapi nyesek buat dipraktekin. barangkali iman aku emang masih sekulit ari... si karang diam mengasihani dirinya, meratapi kepelitan dan ketipisan imannya.)
(Baca Selengkapnya)

Tuesday, January 29, 2013

back to classic movies

"If you see someone without a smile, give him yours" -June Allyson

This part of my life that I called "addicted to classic movies"

PhotobucketApa sih enaknya nonton film klasik? Film sekarang begitu banyak dan beragam, ada yang warnanya begitu nyeni, ada yang sudut pengambilan gambarnya artistik, ada yang efeknya terasa begitu real. Ada yang dibuat begitu canggih. Ini kok malah milih nonton film klasik yang serba apa adanya. Film yang warnanya pun kadang seperti dikrayon, atau malah masih hitam putih, atau film hitam putih yang discreen ulang dengan tambahan warna. Film dengan kamera tunggal yang cenderung statis. Kok betah amat ya?

Yak itu juga pertanyaan saya dulu ama Mbak Ina yang doyan ama film klasik.

Rasanya sudah belasan tahun saya nggak nonton film klasik. Mungkin jaman saya nonton film-film jenis ini adalah jaman TVRI. Film seri Little House on The Prairie, High The Way To Heaven pokoknya jaman tahun 80 an deh. Yah nonton karena terpaksa karna gak punya pilihan. Haha.

Barangkali ini bermula karna saya sedang bosan dengan film-film Hollywood saat ini yang rasa-rasanya udah kehabisan ide. Temanya itu-itu aja. Betul-betul bikin jenuh. Kalo nggak remake film lama, filmnya komedi-romance yang vulgar. Sementara yang lainnya kalo nggak menonjolkan teknologi, film-film yang banyak bermunculan bertema slasher. Satu dua sih nonton masih oke, tapi kebanyakan kok jadi muak. Sepertinya yang psikopat itu bukan tokoh dalam film, tapi produser dan sutradaranya.

Maka iseng-iseng saya pun coba menonton film yang rada jadul : Breakfast At Tiffany’s.

Ya, film ini ceritanya khas hollywood banget. Temanya biasa, barangkali akting Audrey Hepburn yang membuat film ini menarik. Audrey emang natural. Rasanya itu daya tarik film-filmnya. Baru-baru ini saya denger film Breakfast At Tiffany’s ini dimasukan ke dalam National Film Registry oleh US Library of Congress karna dianggap memberikan peranan yang signifikan dalam sejarah budaya dan perfilman Amerika.

Trus saya cari-cari film Audrey yang lain. Dapatlah My Fair Lady dari youtube yang versi HD, ha saya lagi beruntung. Filenya berukuran besar, jadi harus sabar donlotnya. Setelah nonton 2 film tersebut, saya mulai dapat chemistry nonton film jadul. Asik juga ternyata. Memang beda atmosfirnya. Ada sesuatu yang nggak saya dapatin dari film-film sekarang, meskipun film itu bersetting oldis. Entahlah apa namanya.

"Coba nonton Little Women deh, Rang. Bagus banget tuh" Saran Mbak Ina.

PhotobucketOk. Saya searching… you know, internet emang gila. Nyaris segala sesuatu yang berbentuk digital ada di sana. Bahkan film dari tahun 1900an. Meski rada susah akhirnya ketemu. Nyari fim dan lagu akhir-akhir ini memang rada susah karena UU SOFA dan PIPA. Sejak FBI menyeret megaupload.com ke pengadilan, banyak situs hosting file pada mengkeret. Mediafire, Rapidshare, fileupload. Netsonic, dll secara berkala mencari dan mendelete file-file video dan musik yang diduga illegal. Jadi begitu banyak link-link yang almarhum. Sampai-sampai baidu.music tempat donlot lagu bermarkas di china menghentikan layananan donlotnya buat netter beberapa negara termasuk Indonesia.

Tapi tenang, orang gila di internet masih banyak. Makanya saya tetap dapat film klasik Little Women yang legendaris ini…hehehe ketiga-tiganya, tahun 33, 49, 94. Komplit.

Film Little Women diangkat dari novel Louisa May Alcott. Novel ini semacam autobiograpy kehidupan dia ketika remaja bersama tiga saudaranya. Ya seperti Little House In The Prairie-nya Laura Ingalls Wilder, atau semacam Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Yah, pokoknya semacam itulah…

Novel ini sudah diangkat ke layar lebar 3 kali. Pertama tahun 1933 yang dibintangi Katherine Hepburn dkk, kedua tahun 1949 yang dibintangi June Allyson dkk, ketiga tahun 1994 dimainkan oleh Wynona Rider. Dari ketiga film tersebut, yang paling catchy di hati saya film tahun 1949. OMG, Saya sampai jatuh hati ama karakter Jo yang diperankan June Allyson. Anjrit gara-gara film ini saya jadi ngefan banget ama June Allyson, dan mencari film-film dia yang lain.

Menurut saya sih June Allyson nggak gitu cantik, namun karakter Josephine yang dia mainkan dengan sophisticated membuat saya sangat kesengsem…haha. Apalagi denger smoky voicenya, betah dah denger dia ngomong apa aja seharian juga. Sumpah, sexy banget suaranya hahaha (padahal kalo dia masih idup sekarang umurnya udah 94 tahun. Udah kayak Rose tua dalam film titanic)

Jujur aja saya suka film-film begini. Film tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan, namun bikin hati anget.

Secara keseluruhan saya suka semua karakter dalam film ini, keempat pemain June Allyson, Elizabeth Taylor, Janet Leigh, Margaret O’brien tampil dengan akting yang solid. Memang yang paling menonjol adalah June dan Margaret yang memainkan Jo dan Beth. Margareth O’brien walau saat itu masih remaja namun karakternya sangat kuat. Bahkan June Allyson sampai menangis betulan hingga nggak bisa nyetir pulang ke rumah karena beradu akting dengan Margaret. June begitu tersentuh dengan karakter Beth yang dimainkan Margaret. Coba bayangkan, bisa-bisanya saya sampai baca trivia ini dari imdb.com, watdehek?!

Saya juga baru sadar waktu mainin peran itu, June Allyson umurnya udah 32 tahun. Buset, entah karena berhasil dengan aktingnya, entah karena tampangnya yang imut, saya betul-betul nggak nyangka June Allyson setua itu.

PhotobucketBy the way, diantara ketiga film itu, yang paling kurang greget menurut saya film tahun 94 yang diperankan Wynona Rider. Bingung juga sih, soalnya yang main bintangnya bagus-bagus. Selain Wynona ada Claire Danes, Kirsten Dunst, Samantha Mathis, Trini Alvarado dan Christian Bale. Tapi tetap aja rasanya lain. Kayak nonton film lain bukan film Little Women.

Setelah menonton film demi film. Rasanya saya semakin tergila-gila saja dengan film-film klasik... hahaha…
(Baca Selengkapnya)

Monday, December 31, 2012

tentang kebebasan

"Man is condemned to be free; because once thrown into the world, he is responsible for everything he does. It is up to you to give [life] a meaning." ― Jean-Paul Sartre

Afriyani, sopir xenia maut yang menewaskan 9 orang divonis 19 tahun penjara. 15 tahun karena mengemudikan kendaraan dalam keadaan yang membahayakan orang lain. 4 tahun karena kepemilikan narkoba. Malam itu saya liat beritanya di televisi di tempat tukang bubur langganan saya. Bukan sengaja nonton tivi sebetulnya, tapi kebetulan aja saya lagi beli bubur buat bokap dan nyokap. Pantas tempo hari waktu mau jalan kerja banyak sekali polisi di depan gedung pengadilan jalan gajah mada.

        Ketika vonis 15 tahun dijatuhkan oleh pengadilan tinggi jakarta pusat banyak keluarga korban tidak puas hingga sidang sempat ricuh. “9 nyawa hanya diganjar 15 tahun? Harusnya dimatiin aja” Ujar seseorang yang protes. Terlalu ringan menurut mereka.

        Jika melihat nyawa yang hilang akibat perbuatannya, ya keliatannya tak adil. Tapi apa boleh buat, Afriyani memang bukan sengaja membunuh dan bukan pembunuh berencana. Menurut hakim dia bahkan tidak masuk pembunuh dalam katagori pasal 338 KUHP. Vonis 15 tahun tahun itu bukan dari pasal 338 KUHP lho, tapi dari UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

        Anehnya begitu saya baca tuh undang-undang, ternyata sanksi terberatnya hanya pidana 12 tahun penjara. Hakim memberi tambahan 3 tahun dasarnya darimana ya? Mboh. Jika dilihat dari undang-undang ya ini tidak adil buat Afriyani. Tidak fair sebetulnya jika mengambil keputusan karena tekanan publik. (Eh saya bukan ngebela Afriyani ya)

        Memang kalo kita baca undang-undang di Indonesia, kita hanya bisa menarik nafas dan mengurut dada. Sudah hukumannya tergolong ringan ditambah banyak pasal-pasal karet. Pembunuhan dengan sengaja hukuman terberatnya hanya 15 tahun penjara. Itu paling berat lho. Berarti bisa aja pembunuhan itu dihukum hanya 10 tahun, atau 5 tahun, mungkin dengan remisi bisa jadi tinggal 3 tahun saja. Tinggal bagaimana hakim saja.

        Nyawa diganti 15 tahun penjara apa pantas ya? Harusnya nyawa ya balas nyawa. Death sentence or life sentence macam di Amerika sana. Lho kok saya jadi ngelantur ke sana-sana halah…

        Secara pribadi saya menilai Afriyani bukan pembunuh. Itu kecelakaan. Hanya saja yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu prilakunya yang songong : wong lagi ngefly kok nekat nyupir mobil. Kalo pertanyaannya apa kagak ada otaknya ni perempuan? Ya emang saat itu dia lagi kagak ada otaknya. Orang ngefly kok disuruh mikir hehehe…

        "Orang ngefly berat itu kayak orang mimpi" Kata Iman Jaya, temen saya. "Coba lo lagi ngimpi. Ada cewek telanjang di tempat tidur lo. Ya lo garap aja. Emang ada pikiran takut itu dosa? Atau tuh cewek bakal bunting dikemudian hari? Kalo ada pun pasti lo akan abaikan" Lanjut Iman Jaya. "Orang kalo hilang kesadaran, yang ngendaliin otak hanya dua, nafsu dan insting. Pikiran mah udah ditendang nyebur kelaut…"

        "Apalagi ngineks bawaannya berani aja. Orang lagi ngineks, disuruh berantem lawan sepuluh orang juga berani" Iman memang pengalaman dengan yang ini. Hanya saja dia nggak senaas Afriyani yang nyopir dan nabrak orang.

        Temen dari temen saya di Bandung yang pada pulang dari diskotik saban malam, banyak yang sering nyupir sambil mabok. Mungkin mereka beruntung karena pulangnya jam empat pagi, masih belom banyak orang di jalan. Mungkin juga mereka nggak semabok Afriyani. Mungkin juga mereka masih banyak yang doain hingga nggak ketimpa musibah. Mungkin juga waktu mereka normal banyak ngelakuin amal baik. Mungkin juga mereka masih dikasih ditunggu kesempatan tobat ama Sang Pencipta. Entahlah...

19 tahun di penjara.

Dari hidup merdeka, makan enak, minum enak, tidur nyenyak. Hura-hura bareng temen. Party, dugem, joget-joget, mabok hingga pagi. Tiba-tiba dibangunkan kenyataan telah menewaskan 9 orang dengan vonis 19 tahun penjara. Barangkali bagi orang yang percaya numerologi, angka 9 sepertinya telah menjadi angka kutukan buat Afriyani.

        Mungkin Afriyani telah mencubit pahanya sendiri seperih-perihnya. Atau menampar berkali-kali pipinya sendiri. Mencoba bangun, dan berharap ini hanya mimpi.

        Jika umur Afriyani sekarang 29 tahun. 29 tahun ditambah 19 tahun adalah 48 tahun. Habislah masa muda perempuan itu. Mana belom menikah pula. Keluar penjara umur 48 tahun. Can you imagine? No job, no carrier, maybe no money. Ya urusan ekonomi. 48 tahun mau kerja, kerja dimana? Wiraswasta mungkin, atau dia punya banyak kontrakkan. Entahlah

        …and no honey? Di umur 48 tahun apa masih ada lelaki yang mau mempersunting dia? 48 tahun dan bekas narapidana dengan masalalu suram, pemakai narkoba.

        Memang sih jodoh ditangan Tuhan. Siapa tahu di penjara dia nanti bertemu jodohnya. Siapa tau ada lelaki yang simpati dengan keadaannya. Siapa tahu… ah kenapa saya terlalu sok tau meramal masa depan orang. Memangnya saya ini siapa…

        With no less respect to the victims. 19 tahun penjara, secara psikologis adalah hukuman yang luarbiasa berat. Ya saya tau keluarga yang kehilangan anak akan bilang : "Lo nggak tau rasanya kehilangan anak. Coba bayangin, anak yang udah susah payah lo rawat mati ditabrak si gendut itu apa nggak ngenes"

        Ya ngenes. Takut saya ngebayangin anak yang kita sayang-sayang dihajar mobil ngebut. Ngeri saya ngebayangin suara pinggang mereka patah atau kepala mereka pecah. Ngilu banget ngebayangin mereka terhajar aspal dan lumat dilindas roda mobil arrrghhh… Ibunya pasti berjuang untuk mengusir bayangan itu dari kepala mereka.

        Namun kematian siapa dapat lari? Mereka harus direlakan pergi. Yang ditinggal pergi akan hidup dengan rasa kehilangan yang mendalam. Mereka yang menyayangi akan mengingatnya sepanjang hidup. Itu menyakitkan. Bagaimanapun hidup mati udah diputuskan Sang Pencipta. Entah dengan bagaimanapun jalannya. Semoga waktu akan mengobati rasa kehilangan itu.

Tapi bagi Afriyani?

Mungkin tak pernah terpikir oleh Afriyani, bahwa dirinya akan menghabiskan 19 tahun di penjara. Hidup di dalam sel, hanya mampu keluar berjalan-jalan ditempat yang mungkin lebarnya hanya dua kali luas lapangan sepakbola. Tempat yang dipagari tembok tinggi dengan kawat berduri.

        Shit happen.

        Big shit truly happen in her life.

        Dia menangis tersedu-sedu. Barangkali sudah berhari-hari dia menangis. Shock. Mimpi buruk. Terus menerus cemas. Tak enak makan. Gelisah selalu. Tak enak badan. Stress dan entah apalagi. Sejak pagi naas itu hidupnya turn over 180 derajat. Siapa sangka?

        Ada banyak orang mengkonsumsi narkoba. Kenapa hanya dia yang nabrak orang. Tak tanggung-tanggung sembilan orang sekaligus. Kenapa dia yang nyetir xenia itu. Mungkin jika ada mesin waktu dia akan kembali ke malam sebelum kejadian guna menjotosi dirinya sendiri sampai kelenger agar tak pernah ada kejadian itu. Mungkin jika dia bisa lari ke Timbuktu dia akan lari ke Timbuktu. Hidup di sana. Menghabiskan sisa hidupnya, daripada dikurung dalam jeruji penjara.

Allah Maha Bijak, Maha Tahu dan Maha Berkehendak. Dan saya tak hendak menghakimi. Hanya berupaya mencari hikmah dari peristiwa...

Seperti udara. Kebebasan adalah nikmat yang sering manusia lupakan.
(Baca Selengkapnya)

Tuesday, August 21, 2012

grrrrhhhh

what an ordeal…

my laptop hardrive was burned. the prime suspect which made it overheated was stupid fan’s hardrive. it didn’t work properly. or it didn’t work at all.

what is very disturbing when you found your harddrive getting burned? i guess not about buying new one. but, loosing your data. up till now i still thinking about how to get back data from my hardrive. my writing, my novel draft on it. ok i have old backup, but too far old. too much changes i made. and i can’t rewrite it, as you now, that is imposible about picking back every word in our memory. its come once. spill, and gone forever.

i think, its completely damage. even the bios couldnt recognize at all. i’ve tried by winipe, windows live cd. and the result was the same.

almost all recovery software that I know give me nothing.

im not vandalisman. but at that time, i just want to hammer it. why im so stupid. i mean, i didn’t do regulary backup… grhhh…
(Baca Selengkapnya)

Monday, August 1, 2011

belanja...

Beli baju. Beli sepatu. Beli celana. Beli sandal. Semua itu adalah hal yang paling menyebalkan buatku. Membuatku tersiksa dan menderita. Itu sebabnya aku paling malas melakukan hal ini. Keliling-keliling toko. Kegiatan ini kalo dilakukan sering-sering bisa menurunkan berat badan hingga separuhnya, serem kan?! Milih-milih baju, celana, kaos oblong, kaos kaki dan lain sebagainya. Tapi yah apa boleh buat. Penampilanku, kata Kubil akhir-akhir ini udah amat memprihatinkan. Liat sepatu. Udah bulukan gitu. Disemir satu ember pun nggak bakalan naik derajat. Kemeja, celana. Warnanya udah banyak yang kusam.

        Kukira paling tinggal 4 setel pakaianku yang masih lumayan.

        Kalo aku sih nggak peduli. Tapi kasihan temen-temen. Mereka bisa risih kalo jalan ama aku. Dan kantor. Apa kata orang nanti tentang KPP. Kantor bisa turun wibawa pasang pegawai gembel di ruangannya yang mengkilap dan wangi… Jadi kau paham kan? Ini, bukan semata persoalan pribadi. Ini juga bukan sekedar kesadaran sosial. Ini tentang wibawa kantor, terlebih jauh ini menyangkut wibawa negara… Jadi aku tak boleh egois!

        Sesuai dengan tuntutan harmoni yang pernah diajarkan Kubil. Kalo beli celana aku selalu memadankan dengan kemeja. Biar enak dilihat. Emang Kubil itu lumayan juga seleranya.

        Maka harian itu aku habis mengudek-udek toko baju. Ngeborong ceritanya. Beli celana 7 potong. Otomatis atasannya juga, kemeja dan kaus juga harus tujuh. Celana pendek tiga. Trening buat olahraga satu. Sepatu kantor dua pasang. Sepatu olahraga sepasang. Sendal juga dua pasang. Jaket nggak ketinggalan. Kaos dalam. Celana dalam. Saputangan. Handuk. Persis. Persis banget kayak orang habis kemalingan.

        Cukup kau tau, aku sudah lupa tahun kapan terakhir aku belanja. Rasanya sudah berabad-abad silam.

        Ok, ini bagian yang paling pelik! Beli sepatu. Diantara sepatu dengan model yang begitu banyak itu. Mulai dari yang klasik ampe yang mutakhir. Nggak satupun yang menarik hatiku. Jika ada model yang lumayan berkesan, begitu dicoba ukurannya nggak pas. Sepatu itu kau tau, sungguh sialan akar 13 pangkat 1/3 dikali 0.125 dibagi 9 kerjakan dalam waktu 35 detik—mampus koen, bernomer sama tapi jarang yang pas. Semuanya salah. Semuanya norak. Akh atau sebetulnya aku yang norak.

        Barangkale…hehehe…

        Aku mau sepatu warna hitam. Dari kulit bukan sintetis. Nggak berat. Hak alasnya sedang. Nggak kayak mesin giling tapi juga nggak kayak triplek. Nyaman di kaki. Nyaman di hati. Nggak bikin bau biar nggak pernah nyuci kaos kaki. Polos tanpa hiasan, tanpa tali—kecuali sepatu olahraga aku benci sepatu dengan tali, merepotkan dan nggak praktis. Kalo perlu tanpa merk.

        Tentu aja nggak ada kampungan! “Kecuali lo pesen di neraka sana!” mungkin begitu kalo pramuniaganya kutanya.

        Pada akhirnya, seperti Xi Han Wen yang gigih, setelah menanyai adakah sepatu bersayap 9 untuk pergi ke nirwana--*ngaco banget. Dan dilempar keluar dari lantai 5 pagoda Liefeng. Akhirnya pejuang menyerah dan memilih sepatu yang didisplay di rak aja. Ternyata itupun tidaklah mudah. Setelah mengaduk-aduk toko-toko sepatu, dibawah pelototan sang pramuniaga dengan seribu satu syakwasangkanya, akhirnya perjuanganku nggak sia-sia. Yah nggak persis sama dengan yang aku inginkan. Tapi paling nggak aku menemukan yang mendekati. Kubeli dua pasang dengan harapan semoga satu sepatu bisa bertahan minimal dua tahun. Jadi aku bisa lepas dari ‘nightmare lookin 4 shoes’ paling nggak selama empat tahun—watdeheck?!

        Ampun.
        Ampun.
        Cape!

        Biarlah paling nggak untuk satu setengah tahun kedepan aku nggak akan diganggu kegiatan menjengkelkan ini lagi. Satu setengah tahun? Bandingkan dengan Marbud Sasongko yang minimal setiap bulan belanja tiga setel pakaian. Mungkin betapa mengerikannya isi lemariku di mata Mister Marbud Sasongko yah…?

        Aku memang payah dalam hal berbusana. Aku lebih sering beli buku daripada beli baju. Yang walo udah banyak baca nggak pinter-pinter—malah perasaan makin bego aja. Tapi aku nggak kapok-kapok.

        Kalau dihitung pake sipoa, aku punya celana nggak lebih dari sepuluh. Apalagi Kalo dihitung pake metode nyimpleng mungkin hasilnya lebih parah lagi. Dan kemeja—itu udah termasuk batik yang merupakan baju wajib kondangan. Itu udah termasuk pakaian kantor. Jadi Diantara anak-anak kos mungkin lemarikulah yang paling ringkas.

        Begitu beli yang baru. Biasanya yang lama segera kuenyahkan. Biasanya sih kusumbangkan. Eh maksudku kukasihkan ke orang yang mau—malu aku pake istilah menyumbang. Kalo menyumbang kan seharusnya yang terbaik, bukan dengan pakaian yang walo masih layak dipake tapi udah tak diinginkan.

        Untunglah kantorku nggak kayak pemda yang mewajibkan seragam. Andai kantorku seragam. Mungkin bajuku lebih sedikit lagi.

        Kadang aku nggak mengerti kenapa Mr. Marbud Sasongko hobi sekali belanja. Dia itu kalo pilih baju ya ampun. Satu setel baju aja dibanding orang pup tujuh belas kali juga masih kala lama dah. Aku baru nemuin ada cowok scrutin kronis begitu. Selama ini gue merasa Kubil aja udah keterlaluan. Ternyata ada lagi yang lebih parah. Bahkan Jhon Bayu cowok metro versi kos-kosan pun, tewas. Yah begitulah. Orang punya hobi yang aneh. Aku harus memaklumi.

        Ngoceh soal hobi, hobiku sendiri apa yah?

        Rasa-rasanya aku nggak punya hobi yang mengakibatkanku mengoleksi sesuatu. Dulu sih iya, aku sering beli kaset. Tapi itu dah bertahun-tahun lalu nggak. Udah berenti. Lagipula jaman kaset juga udah lewat. Mungkin koleksi buku kali yah. Nggak terasa. Kebiasaan beli buku nyaris membuatku bangkrut. Kalo ditimbang udah berapa ton?

        ….

        "Kamu pura-pura tanyain kek"

        "Apa?"

        "Ini" Kata si lelaki "Ini!" Sambil menarik ujung kemeja. "Buset dah" Seru si lelaki. "Baju baru! kamu tau nggak? Biar seluruh dunia nggak tau. Tapi kamu harus tau!"

        Dia, si perempuan berbando hitam, malah ketawa terkekeh-kekeh. "Freak!" Tukasnya. " Itu pasti nggak akan dicuci seminggu"

        "Biar awet nggak usah dicuci. Diangin-anginin aja kali yah" Tukas si lelaki.

        "Idiiiih" Wajah si perempuan membayangkan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada pocong ngesot bunuh diri. “Aku harus siapin masker ama tabung oksigen"

        "Sudah berapa kali ta’ bilang. Supaya asma kamu nggak kambuh, kamu harus makan sate kadal. Nggak perlu pake bawa tabung oksigen"

        Si perempuan menyarangkan tinju bintang selatan ke lengan si lelaki. Si lelaki meringis kesakitan.

        "Lho-lho. Ini juga baru lho…" Tangan si lelaki melesak masuk ke saku celana lalu memunjungkan tangan dari dalam saku. "Juga ini" Dia menghentakkan kaki. Sendal maksudnya. Berharap mahluk di depannya mengerti.

        "Ini juga baru"

        Dia, perempuan itu, menarik jaket katunnya yang berwarna krem terprovokasi. "Baru dicuci" Dia terkekeh sendiri.

        Berdua terpingkal-pingkal. Begitulah ketika kedewasaan tersingkirkan. Setidak-tidaknya itu memberi sebuah jeda pada kepenatan pikiran. Dia lebih suka semuanya mengalir tanpa bisa diterka atau merasa perlu direkayasa.

        "aku tak mau jikalau aku dimadu. pulangkan aku ke rumah orang tuaku…" seorang waria dengan kicrikannya melantunkan lagu dengan suaranya yang ngebas. Sebagai bonus sang waria meliuk-liukan tubuhnya kepada pemilik warung yang memberinya receh.

        "Kamu kalo saya madu. Jangan sampai kayak gitu, yah…" Tukas si lelaki

        Mata indah mahluk di depannya berubah jadi koala…. Klik! Klik! Klik! – abadilah momen itu...(ks'ti)
(Baca Selengkapnya)

Sunday, January 2, 2011

who is erica allbright?

Apa yang dicari orang di internet setelah nonton film Social Network. Oh ternyata sama ama saya : Erica Allbright.

        Hasil gugling bilang : Erica Allbright, she’s real or not?

        Jutaan orang penasaran tentang perempuan yang sepertinya tak pernah bisa dilupakan Mark Zuckerberg ini. Jutaan orang pun gugling bukan untuk mencari tau siapa pemain Erica Allbright yang cakep ini. Tapi orang gugling untuk cari tau : She’s real or not?

        Erica Allbright,
        Dia rill atau cuma bumbu? Diskusi semakin asik saat teman saya percaya kalo sebagian besar kisah pendiri facebook di film itu kemungkinan bener, termasuk tentang Erica--meskipun Mark Zuckerberg bilang yang mirip di film itu hanya tas sangkilnya doang hehehe… * temen saya bilang sah-sah aja sih Zuckerberg bilang begitu, masa dia ngaku seautis itu hehehe *

        Yah film itu memang diadaptasi dari bukunya Ben Mezrich. Sedangkan dalam riset pembuatan novelnya Ben nggak berhasil melibatkan Mark. Mark nggak nanggapin permohonan Ben. Jadi Ben hanya menggali sumber dari orang-orang sekitar Mark Zuckerberg. Semua sudut pandang film ini berasal di luar Mark Zuckerberg. Mungkin kelihatannya timpang. Atau malah jadi objektif karna tidak ada koreksi dari Mark.

        Jadi kisahnya kira-kira “begitu” meskipun ngga persis atau sedramatis itu. Bumbu-bumbu pentinglah. Namanya juga felem hehe…

        Kalo saya nggak salah inget kisah tentang Erica Allbright dibukunya Ben nggak ada *koreksi kalo saya salah soalnya saya baca bukunya melompat-lompat*. Keberadaannya kayak dicut gitu.

        Kalo nyimak dialog antara Erica dan Mark diawal film, pasti semua orang geleng-geleng kepala. Kok ada ya orang macam Mark. Ingin rasanya saya jorogin Mark ke got, atau nimpuk kepalanya, biar nggak terlalu autis.

        Damn! Bukan begitu caranya memperlakukan cewek mark!

        Lebih parah lagi setelah mencerca Erica diblognya, Mark nggak pernah sungguh-sungguh minta maaf.

        Mark Mark Mark, apa susahnya sih minta maaf dengan tulus?

        Susah tentunya bagi Mark, mahluk aneh dengan gengsi setinggi Mount Everest. Nggak pernah dia merasa harus minta maaf atas apa yang dilakukannya… dia bahkan selalu mencari justifikasi tindakannya agar dimaklumi. Siapa nggak kesel coba?

        Kalo kisah ini benar, rasanya ironis banget. Orang yang membangun sebuah jaring sosial terbesar di dunia maya ternyata mahluk yang hampir-hampir antisosial, satu-satunya teman baiknyapun, Eduardo, ia tendang demi mengamankan egonya. Facebook adalah ego Mark, siapapun yang membahayakan facebook, tak perduli teman atau lawan akan ditendang Mark.

        Mungkin jutaan orang harus berterimakasih pada Mark, karna egonya itu facebook berhasil eksis. * Lagi-lagi sebuah ironi *

        Namun yang membuat trenyuh adalah sejenius dan seberapapun kayanya Mark, ternyata tak bisa membuat Erica melirik apalagi kembali padanya. Bagi Erica Allbright, Mark Zuckerberg bukan jenius aneh seperti orang kira. Dia tak lebih dari seorang asshole!

        Ini bukan lagi ironis, tapi tragis, brur! Pendiri facebook yang di add ribuan orang terus menunggu permohonan yang keliatannya tak akan pernah diconfirm oleh seorang usernya. Selamanya…
* nangis deh… kucing disebelah ane *
(Baca Selengkapnya)

Sunday, October 31, 2010

he will keep his 23 forever

Apa yang ingin kau lakukan saat usiamu dua puluh tiga? Kau ingin hura-hura dalam tahun kejayaanmu. Menikmati setiap bit nafasmu, dengan energi yang melimpah ruah. Oh tidak, kau mungkin sudah mulai berpikir serius. Kau ingin serius menjalin hubungan dengan seseorang yang kau cintai. Kau ingin mengejar cita-citamu, mempi-mimpimu. Kau ingin melejit dalam prestasimu. Kau ingin tinju dunia dengan kedua kepalmu. Kau kejar semua kesempatan di depanmu. Banyak. Banyak sekali yang ingin kau kerjakan…

       Begitu juga dengan Toni Haris.

       Ya, Toni Haris namanya. Tinggi seratus tujuh puluh satu. Rambut keriting, bertubuh kurus. Lelaki itu menjelang umurnya yang ke 23. Dia memang tak tampan seperti Mas Edo. Dia juga tak pandai main gitar seperti Jimmy. Tapi dia cukup enak dilihat. Paling nggak itu kata mbak Lusi, yang sering curi-curi pandang pada Toni Haris. Lebih muda, tapi pembawaan dewasa. Tak seperti kamu, Rang… hahaha … iya deh, mbak…

       Meski tak rajin mengaji. Sholat Toni tak pernah tinggal. Dia lelaki baik-baik. Tumbuh dari seorang anak rumahan. Tak pernah merokok, tak pernah minum minuman yang keras-keras gitu. Bahkan dia nggak ngefans ama kopi. Toni Haris tak hobi keluar malam. Apalagi dugeman, nggak bakalan. Begadang palingan jika dapat giliran ronda.

       Ia smart. Tangkas dalam bekerja. Cermat dalam menilai. Perhitungan dalam bertindak.

       So what happen with Toni?

       It happened to him.

       Dia terbaring dengan selang di hidungnya. Selang di nadinya. Selang dan selang di tubuhnya, seolah cairan itu bukan masuk, melainkan menyedot sedikit demi sedikit material tubuhnya. Ia semakin kurus dan rapuh. Tak ada yang tahu persis kapan penyakit itu datang pada tubuhnya. Mungkin dirinya sendiri juga tidak. Dia hanya batuk kecil. Seingatku dua tahun lalu sesekali dia terbatuk. Tak banyak, hanya sekali dua kali. Seperti orang yang hendak mengenyahkan gatal tenggorokan.

       Namun hari ke hari interval batuk pendek Toni Haris semakin dekat. Dulu hanya sekitar lima belas menit sekali. Menjadi lima menit sekali. Sakitkah batuknya itu?

       Toni bilang tidak. Hanya menjengkelkan. Seperti ada yang menggelitik tenggorokannya, minta dibatukkan.

       Batuk itu menguras energi yang besar. Kekuatan batuk hampir seperti bersin. Jika kau bersin terus-menerus dalam satu menit, kau bisa mati. Demikian juga batuk, batuk. Mengguncang tubuh seperti gempa. Jika mengalaminya sesering mungkin organ-organ tubuhmu akan kacau. Otakmu bisa rusak. Syaraf motorikmu bisa putus. Kau bisa mati mendadak.

       Itu sebabnya orang yang sering batuk akan makin kurus. Toni Haris makin kurus.

       Satu setengah tahun yang lalu Toni Haris resmi masuk rumah sakit karna hal ini. Dia menginap di bangsal rumah sakit selama kurang lebih tiga minggu. Keluar dari rumah sakit tampaklah Toni belum sembuh benar. Ia pucat, lesi. Dan batuknya yang kecil masih tak hilang, malah sepertinya frekwensi lebih sering dari sebelumnya. Ia juga jadi sering tidak masuk kantor. Tak perlu ditanya kondisinya kesehatannya. Siapapun dapat melihat dari fisiknya. Setelah itu ia jadi sering mengkomsumsi obat dokter. Lalu keluar masuk rumah sakit.

       Lalu angin berhembus. Merontokan daun. Memudarkan janji. Lembar-lembar sobekan almanak adalah tanda, waktu berjalan.

       Dihitung dari terakhir kali Toni Haris duduk disebelah mejaku, almanak sudah lebih dari delapan puluh kali disobek. udah hampir tiga bulan Toni Haris tidak masuk kantor. Dia tergolek di rumah sakit.

       Penyakit sebetulnya apa? Pada diagnosis sebelumnya, ada indikasi radang paru. Tapi ternyata itu tak betul, setelah dicek-up beberapa kali di laboratorium yang berbeda. Dokter mengatakan ada flek diparu-paru Toni Haris. Aku tak tau jelas sebetulnya, sebab informasi aku terima dari adik perempuan Toni Haris. Sedangkan adiknya diberitahu ibunya. Ibunyalah yang diberitahu dokter. Jadi kira-kira penjelasannya adalah bahwa flek itulah yang menyebabkan dinding paru-paru Toni Haris kesulitan mengikat oksigen yang masuk. Itulah yang menyebabkan dia sering batuk. Karna udara yang dia terima seringkali gagal ditangkap.

       Lalu bagaimana mengobatinya?

       Ibunya bilang, Dokter juga belum bisa memastikan jenis dan penyebab flek paru-paru Toni. Sampel yang dikirim ke Jakarta ternyata diteruskan ke rumah sakit Singapura. Peralatan rs Jakarta belum mampu menganalisis sampel tersebut. Tapi sampai kini tak ada kepastian tentang hasil analisis itu pihak rs Singapura. Karna sering baca buku kedokteran, jurnal kesehatan, jurnal dokter. Aku jadi tau bahwa dokter itu hampir tidak dapat dipercaya. Dokter itu hanya mengira-ngira. Sedangkan gejala penyakit yang jumlahnya jutaan itu hampir serupa. Dan karna dokter mengira-ngira maka dokter berlindung dibawah ketiak prosedur. Selama dokter mengikuti prosedur maka dia kebal terhadap segala jenis tuntutan. Segala kesalahan, kegagalan dibawah prosedur adalah manusiawi. Diluar itu baru disebut kelalaian atau kealfaan.

       Diagnosis.
       Diagnosis.
       Diagnosis.

       Dokter bilang inti pengobatan itu adalah diagnosis. Tanpa diagnosis yang tepat, semua pengobatan akan sia-sia. Takkan bermuara pada kesembuhan. Sebetulnya bukan hanya sia-sia, namun bisa menimbulkan penyakit baru. Maka sibuklah para dokter itu mendiagnosis penyakit Toni Haris.

       Dokter sebelumnya, mendiagnosis Toni Haris begini. Dokter yang lain, mendiagnosis begitu. Datang lagi dokter yang katanya lebih canggih bilang yang lain lagi. Diagnosis ternyata adalah kira-kira. Sekolah yang begitu lama, Buku yang tebal-tebal, peralatan yang canggih ternyata hanya menghasilkan kira-kira. Begitu rapuhnya pengetahuan manusia. Tapi ironisnya banyak manusia yang begitu sombong hanya karna merasa bisa menyembuhkan suatu penyakit.

       Diagnosis yang tak berhasil, pengobatan yang tidak tepat, menjadikan Toni Haris objek eksperimen pengobatan. Suatu ketika dia diinjeksi beberapa ampul obat yang tak tau apa sebutannya. Hingga dia kesulitan bernafas. Lain waktu dia diberi obat lain yang membuat gangguan saraf di telapak kakinya. Hingga telapak kakinya sakit untuk dipijakan. Tak tau apa jenis obat itu. Yang jelas obat itu mahal. Tapi tak sedikitpun obat mahal itu menyembuhkannya.

       Hari ke hari penurunan kesehatan Toni akselerasinya makin cepat. Dari dapat berjalan sendiri ke toilet, hingga harus dipapah. Dari sholat berdiri, kemudian menjadi duduk, hingga akhirnya berbaring saja. Dari bisa bercakap-cakap dengan penjenguknya, hingga hanya bisa menatap mata penjenguknya saja.

       Mbak Lusi menangis melihatnya. Mbak Lusi menangis menceritakannya. Lidahku kelu, ludahku getir mendengarnya. Aku menolehkan wajah saat kurasa mataku menghangat. Kulihat, Ri pun menggigit bibir saat kuceritakan, padahal dia tak kenal Toni Haris.

       Mungkin jika Toni Haris boleh protes pada Tuhan. Dia akan protes, kenapa dia yang sudah begitu baik menjaga kesehatannya, menjalani hidupnya sebijak mungkin diberi sakit seperti itu. Kenapa tidak orang yang menghirup nikotin berkardus-kardus saja. Kenapa tidak mereka yang menghabiskan umurnya di kepulan asap diskotik. Masihkah mereka bisa tertawa jika melihat perjuangan Toni Haris untuk dapat bernafas dengan lapang dan merdeka…

       Tapi sepertinya Toni Haris sudah memahami. Setiap orang dapat ujiannya sendiri.

       Malam itu dokter datang pada ibunda Toni Haris. Ada sebuah obat baru, yang akan dicoba pada Toni Haris. Dokter memohon ijin. Jika obat yang ini gagal, sang dokter angkat tangan. Ini obat terakhir. Upaya terakhir…

       Toni yang beberapa hari hanya terbaring dan terpejam dengan sesekali terbatuk, seusai diberi obat itu kelihatan tenang. Jam dua malam Toni Haris terjaga, dia bilang haus pada sang bunda. Ibunya yang berjaga menyuapinya susu. Toni Haris minum begitu lahap. Sempat tersenyum ketika sang bunda mengelus kepalanya. Beberapa menit setelah itu dia tertidur lagi. Nafasnya kian melemah. Sepuluh menit kemudian metronom jantung Toni Haris grafiknya menjadi garis datar.

       Ibundanya tau, Kepergian Toni Haris hanya tinggal hari atau jam. Dan beliau sudah bersiap menerimanya. Jika Mbak Lusi diberi pilihan, mungkin ingin lebih cepat lagi. Tak tahan ia melihat keadaan Toni Haris. Mungkin juga sang bunda. Ya beliau sudah bersiap melepas Toni. Tapi beliau menangis jua saat anaknya pergi.

       Toni Haris pergi.
       He just began in 23 at that time… and he will keep his 23 forever
(Baca Selengkapnya)

Saturday, July 24, 2010

blackberry

"rang, no pin lu brapa?"

       "pin?" karang mengernyit. oh "010101" jawab karang. maka terbahaklah salah satu sontoloyo, yang kemudian diikuti sontoloyo-sontoloyo berikutnya. hahaha karang pun ikut tertawa. paling asik memang menertawakan diri sendiri. gratis n no risk.

       "kalo lu tanya karang nilai register asembler baru ngerti dia" didi kidi selalu ambil bagian dalam acara ngebullying karang.

       "rang. tuh liat anak-anak pekael aja maenannya bb" eko buyut mencolek karang. seorang anak pekael di kantin sedang maenan bb-nya, "masa lo kalah" timpal penyo bin penyu

       "nggak mempan – gak mempan" balas karang. kepalanya geleng-geleng. mulutnya komat-kamit baca ta’awud.

       para sontoloyo terpingkal.

       sore itu, para sontoloyo sedang ngomporin karang, supaya beli blackberry. menurut hemat mereka dengan takehomepay karang yang sekarang, amatlah tidak pantas memegang hape jamurannya. oh-oh karang jadi malu ngedengernya. please, jangan ngebayangkan bahwa gaji karang itu setingkat manajer perusahaan bakrie. jauh, kejauhan, bung. sebab karang hanyalah karyawan gajian biasa, yang mana gajinya barangkali lebih nggak terlalu banyak daripada gaji pns biasa. dan kalo mereka bilang foya-foya, itu artinya nggak jauh dari makan-makan di warung padang, atau nonton ke twentiwan. ato jalan kere-kerean ketempat yang temen-temennya bisa bergidik kalo diceritain (ih jangan mikir yang aneh-aneh ya...)

       (mbak, mas, om, tante mohon diralat ekspektasinya yah... )

       begitulah, namanya karang, tetaplah karang--kek batu kata si penyo. menurut prediksinya sendiri. mungkin dia bakalan jadi orang terakhir di atas dunya, di kolong langit, di planet bumi, yang barangkali akan pegang bb. itupun dengan catatan hape dia yang sekarang ini udah modar.

       "…duitnya utuh nggak kemana-mana. langsung masuk ke rekening. paling-paling cuma buat bensin…" ucap penyo bin penyu.

       "…bayar kos, nggak. cicilan rumah, kagak. dugem nggak …" eko buyut menambahkan dengan mulut berdecak.

       "coba bayangkan jika semua orang indonesia seperti karang. ekonomi akan macet. dana simpanan menumpuk. tak ada sirkulasi uang di pasaran" analisa cerdas nan jenius yang bisa merontokkan teori konsumsi keynes dikeluarkan oleh ajo.

       terbahak lagi.

       kadang-kadang dalam pikiran konyolnya, karang ingin tanya, tentang apakah mereka ini masuk stan nyogok apa nggak. secara melihat kenyataan, kadang betapa simplenya pikiran mereka. seperti melihat kehidupan amuba di cawan patry : hanya membelah diri. so simple. sesimple melihat cacing di dalem tanah (emangnya bisa ngeliat cacing di dalem tanah?).

       adakah yang pernah memikirkan apakah membelah diri itu sakit atau tidak? apakah cacing di dalam tanah takut gelap dan kesepian atau nggak? mungkin karang kurang menyadari, jika persoalan mayor yang muncul itu-itu saja. orang cenderung menjadi kebas dan tumpul. tidak bisa lagi melihat variabel diluar dirinya. hingga begitu banyak persoalan menjadi seperti grafik diatas kertas dengan dirinya sendiri sebagai barometer.

       halah-halah kenapa jadi ngelantur.

       nggak kek gitu, kali. yang betul karang nggak cuma ngerti dengan kegilaan konco-konconya, ama barang yang judulnya blackberrie. seolaholah dunia kembali ke jaman batu tanpa megang si berrie.

       apakah dunia berhenti jika nggak chichat barang sehari? terus terang, karang adalah tipe orang paling malas chit dan chat. mungkin dia adalah orang aneh diantara kaumnya. karang nggak suka ngobrol ditelpon lama-lama, tanpa ada subjek penting. karang juga nggak suka ngomentarin apa yang disebut status. apalagi nulis-nulis “hal tidak penting ttg dirinya” untuk disebut status. wow. dan bagi karang ngga penting ngobrolin hal-hal konyol ditelpon siang atau pagi hari kalo sore atau malemnya mereka ketemu. dan sekarang blackberry. mahluk apa itu? he’s nothing to do with that stuff n he pretty sure de stuff nothing to do with him.

       u know why?

       becoz he’s freak. that’s all
(Baca Selengkapnya)

Wednesday, May 26, 2010

ransel

       "ransel lo jadul banget sih. ganti napa?"

       "kenapa emang?" saya nengok. sebut saja namanya ajo. jo entah merupakan orang yang keberapa yang protes dengan si item, ransel kramat saya.

       "berat tau!" tukasnya sambil melepas si item dari punggungnya.

       "punggung lo nggak sakit pake barang kek gini?"

       "eh tuh ransel kuat banget tau. udah dari jaman gue kelas satu esema. udah kemana aja gue bawa. nemenin gue naik gunung, masuk-keluar utan, jalan-jalan. coba lu pegang talinya. sepuluh hercules juga boleh tarik tuh tali. tapi putus mah, nggak bakalan" saya membela si item kesayangan saya itu.

       "emangnya perlu ransel sekuat itu?" ajo mengernyitkan kening pada temannya yang ortodok. "rang kita tuh mo travel lite. jalan seringan mungkin. agar menikmati perjalanan. emangnya lo tentara yang …"

       "eh ribut dah lo" potong saya sedikit sewot. "itu ransel, ransel gue. gue yang make. gue yang bawa. kok lo yang repot sih?"

       ajo ngakak.

       ransel saya tuh mereknya alvina. dulu sih, alvina terkenal banget dikalangan anak pendaki gunung. tapi sekarang, nggak tau deh kemana tuh si alvin. sepanjang pengetahuan saya, rasa-rasanya belom pernah saya ketemu dengan ransel sekuat itu. hampir semua merek-merek lain seangkatannya yang di pake teman-teman saya udah pada jebol. cuma dia doang yang kelihatan masih gagah dan digjaya. padahal jam terbangnya nggak kalah, malah mungkin lebih tinggi, karena si item juga sering dipinjam.

       selain bahannya yang tebal karena anyamannya rapat, si item juga punya rangka yang membuat dia selalu tegak jika diletakkan. itu yang membuat dia udah berat walaupun belom diisi.

       “ransel sekarang memang bukan hanya menitikberatkan pada faktor kuatnya. tapi juga keringanan dibawa dan kenyamanan dipakai” tukas ajo.

       ok, sebenernya emang masuk diakal saya. tapi dasar kepala saya yang emang kek batu kata ajo, tentu argumen dia harus mandeg di depan kuping dulu. sebelum saya menyerah. sebab, paling tidak ada satu alasan kenapa saya sampai sekarang saya masih sudi mengendol-gendol si item : jika ada ransel yang masih bisa dipake, kenapa harus beli caril baru?

       "tapi… susah deh, gue ngasih saran ama manusia masosistik macem lo"

       saya terkekeh. barangkali deskripsi tunggal ajo tentang saya adalah masosistik.

       saya sendiri menganggap ini hanyalah perbedaan tentang konsep barang. ajo adalah orang yang dinamis. sedang saya adalah adalah orang yang konservatif. kalo saya terlanjur cinta ama barang. maka, meski udah jelek sekalipun, selama masih bisa dipakai saya akan pertahankan. kebalikannya ajo, dia bukan jenis manusia yang melankolis terhadap barang yang dipunyainya. barang akan bertahan padanya selama dia bisa berfungsi secara optimal. jika ada barang baru yang dapat memberikan fungsi yang lebih optimal. kenapa tidak?

bagaimana dengan anda?
(Baca Selengkapnya)

Saturday, February 6, 2010

lari, rang, lari

sudah lama.

rasanya lama sekali. tidak lari. dulu. ah rasanya terlalu dulu. sampai-sampai saya lupa bagaimana rasanya. lari. ya lari itu.

dulu teman saya yang namanya sebut saja, heri bilang : "lari, rang!"

waktu berlari. hidup berlari. maka kamu harus berlari! kamu harus berlari lebih cepat dari hari, dari hidup itu sendiri, jika ingin mengalahkan hari yang keras. lihatlah, saat kau dalam percepatan. semua tertinggal di belakang. biarkan! sebab yang lebih cepat di depanmu masih lebih penting untukmu. jangan biarkan mereka meninggalkanmu.

saya masih mengenang teman saya yang sekarang tak tau dimana itu. ia hilang, dan entah terselip di belahan dunia mana. teman saya ngelayap kemana-mana. teman saya yang sangat cepat dan tangguh dalam berlari dalam banyak hal. teman saya yang cerdas. yang tak pernah saya ungguli nilai-nilainya.

jika kau rasa ingin mampus kebosanan. jika kau benci dunia yang tiba-tiba kau rasa menjadi brengsek. jika kau sedang marah dan ingin mencincang orang. jika kau patah hati. jika kau punya tumpukan masalah. saat kau merasa tak mampu lagi berbuat apa-apa. saat kau ingin rasa-rasa yang tak kau inginkan mengendap dan meracunimu. larilah. larilah secepat kau bisa. sejauh-jauhnya. biarkan semua yang ingin kau campakan tertinggal dan menguap bersama nafas yang kau hembuskan.

heri pun berlari.

dia tak ingin menangisi hidupnya yang terseok-seok dibelakang, dia memilih mengejar apa yang ada depannya. ketika kau memilih bergerak lebih dulu. kau akan mendapat banyak pilihan ketimbang kau menunggu. jika kau menunggu kau akan mendapat sisa. tak banyak pilihan pada sisa.

ah entah sudah berapa lama saya berhenti berlari.

“sebagian besar manusia menciptakan penjara bagi hidupnya sendiri”

saya yang masih kehabisan nafas ngos-ngosan menengadah.

“ini” heri mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri “penjara itu di sini” katanya lagi. “dan mereka melupakan yang disini”, heri mengetuk sendiri dadanya.

“stuck”
“its your choice…”

heri selalu punya filosopinya sendiri. yang mungkin tak lazim untuk remaja seusianya, mungkin karena dia banyak membaca. “kita berlari, disini, di lapangan ini. fisik. dan kita juga berlari di sini, pikiran dan angan-angan kita. buat keduanya seimbang” terus terang aku menyukai cara dia mengajak kita melakukan sesuatu, ketimbang cara yang dilakukan guru-guru.

“pilih dan perjuangkanlah. jika kau yang memilih hidupmu sendiri. jikapun pada akhirnya tak sesuai yang kau inginkan. kau akan puas dan tak menyesali diri” itu sesaat sebelum dia pergi

"now. im stuck n stack righthere... right you said"

dulu, di surabaya saya sering berangkat kantor dengan berlari. pagi sekali. pakai sepatu kets dan trening. menikmati udara bening pagi. saya kangen saat seperti itu. beberapa hari yang lalu saya menonton ulang forest gum. ketika melihat adegan forest berlari saya merasakan kembali atmosphere itu.

kau tak perlu berpikir untuk berlari. biarkan dan terima, rasa itu. biarkan semua yang kau ingat, yang kau kenang, berkejaran dalam darahmu, membilas memorimu. hingga tersembur lewat nafasmu. hingga merembes dari pori-porimu. hingga menetes dan menguap.

aku tau. aku paham kata saya dalam hati. namun sesungguhnya saya tak betul-betul tau, apalagi paham. hanya mengira-ngira. kira-kira begitulah. namun aku siap untuk berlari… lagi

i just run for my life, to live my life!
(Baca Selengkapnya)

Saturday, December 26, 2009

sejarah dalam repetisi

chiang kay shek pernah bersumpah akan membabat komunis sampai ke akar-akarnya berapapun harganya. karna barangkali saat itu hanya dia diantara segelintir orang yang betul-betul paham, betapa besar potensi bahaya dari ideologi yang diusung partai itu. dia lebih mengkhawatirkan komunis merebut kekuasaan, daripada harus berperang melawan jepang.

jepang dan rusia itu musuh yang nyata. kamu bisa lihat. kamu bisa kamu tabok. bisa kamu jenggut. bisa kamu cium baunya. tapi komunis?

bisa-bisa selimut dan bantalmu sendiri adalah komunis.

sayangnya partai nasionalis yang dia komandoi digerogoti kemunduran moral. kkn merebak dimana-mana, membangkrutkan partai. menghilangkan kepercayaan rakyat. sementara saat itu komunis begitu solid. begitu disiplin. begitu merakyat. paling tidak, itulah fakta awal-awal berdirinya partai yang ditunggangi mao, sebelum akhirnya menjadi besar, menjadi srigala.

didahului atau mendahului.

sejarah di rusia berulang di china. di rusia dulu, kaum bolshevik bahu membahu dengan kaum menshevik merobohkan dinasti rumanov, tsar rusia. setelah memegang kekuasaan, mereka menyingkirkan kaum menshevik yang dulu notabene teman seperjuangan mereka karna dinilai terlalu lunak.

menurut lenin, komunis tidak dapat berdiri sendiri. komunis harus mendunia agar bisa terus eksis. maka walaupun ekonomi rusia masih carut-marut, kiri-kanan depan belakang, harus dimerahkan. harus dikomuniskan

komunis bukan binatang evolusi ala darwin. tapi dia binatang temuan marx yang harus dibesarkan dengan revolusi. makan harus dengan piring revolusi. minum harus dalam gelas revolusi. tidur harus dengan selimut revolusi. buang hajat pun sedia kata harus ditemani revolusi. pokoknya, dan sekali lagi, nggak boleh nggak : pokoknya, nggak ada tuh yang namanya sedetik tanpa revolusi.

"lenin. hei lenin!"

"lenin!"

dor! dor! dor! lenin roboh bersimbah darah. "kamu mengkhianati revolusi" teriak seorang seorang perempuan yang menembaknya tiga kali. tapi tiga peluru, belomlah harga mati yang harus dibayar lenin untuk ambisinya.

perempuan itu keliru jika lenin mati semudah itu. revolusi masih jauh, sejarah belom akan membiarkan lenin untuk membusuk terlalu dini. maka meski lenin akhirnya mati juga karna stroke, ambisi lenin tidak ikut memblenyek bersama jasadnya. namun hijrah ke teman seideologinya stalin.

maka tak sampai menunggu puluhan tahun apalagi berabad-abad, stalin berhasil melahirkan kader-kader komunis yang dia didik lewat agen-agennya yang dia susupkan ke negara tetangga mereka yang sedang kisruh, china.

di jerman komunis tak beruntung. mereka bersama yahudi dimasukan hitler kekuburan.

tapi kesialan tak datang di segala tempat. di china, mereka lebih aman, karna tak ada manusia bermata setajam hitler. atau berhidung sepanjang himler. yang ada hanya pemuda mao. lelaki oportunis yang betah berjam-jam diperpustakaan, menulis puisi, bercerita tentang angan-angan yang muskil : china harus diremukkan, sebelum dibangkitkan.

siapa sangka angan-angan bisa menjadi nyata kemudian hari nanti. barangkali mao mengucapkannya saat bintang jatuh. harusnya sang teman membekap mulut si oportunis ini jika memang hal ini benar adanya. maka agen-agen lenin ini pun mengadakan pengamatan. hasil riset tanpa tesis menyimpulkan, pemuda ini punya kemampuan membaca situasi, serta potensi memperdaya yang lihai. maka pendek kata dialah orang china yang dicari-cari lenin.

mao bukan pendiri partai komunis china, masalah setelah berkuasa dia mengklaim demikian, itu urusan lain. partai komunis china sudah ada sebelum mao masuk di dalamnya. sejarah memang bisa ditulis ulang. namun fakta-fakta sejarah, bukan buku sejarah yang mudah begitu saja di tipex.

bersama mao mereka membesarkan partai komunis china, lalu bersama partai nasionalis yang didirikan sun yat sen yang kemudian dilanjutkan chiang, mereka menumbangkan dinasti manchu.

di serang dari luar, dirongrong dari dalam. dinasti yang sudah impoten. dinasti yang sudah degradasi akhirnya pasrah di tangan pisau sejarah.

dinasti manchu runtuh. pu yi kaisar terakhir yang bukan putra kaisar, diturunkan paksa dari tahta. pu yi sial sekaligus beruntung. beruntung dia pernah jadi kaisar, merasakan nikmat jadi kaisar. sialnya dia menghadapi pemberontakan demi pemberontakan warisan sejak era perang candu. untung lagi setelah membangkrutkan negara dan dihujat jutaan rakyat china lehernya juga nggak jadi santapan guiletin seperti luis xvi.

didahului atau mendahului.

setelah dinasti manchu runtuh, sejarah rusia berulang di china. komunis menyikat habis nasionalis. setelah berjuang keras, toh kaum nasionalis akhirnya harus angkat kancut lari dari china daratan.

sejarah hampir berulang di indonesia. tahun 65, ketika di china revolusi kebudayaan bikinan mao mencapai puncaknya, hingga rakyat china bener-bener remek, seremek-remeknya. di indonesia pemberontakan g 30 s pki meledak. peka'i mengkhianati teman-teman seperjuangannya. ingin merebut kekuasaan, dan mengkomuniskan indonesia. jadi sekarang bila ada yang bilang peka'i hanya rekayasa sejarah, biar saya tempeleng kepalanya.

pki itu ada, dan hampir mengkomuniskan indonesia!(karangsati)
(Baca Selengkapnya)

Tuesday, July 21, 2009

barangkali hanya

barangkali hanya batu yang melawaninya bicara. yang mengangguk dalam bisu. yang menggeleng diam. saat diserunya langit, di petang yang telentang. dipupus hari yang kerontang.

dia menghitung nama, yang tersebut sejak kali pertama terjaga. yang teringat-lupa apakah pernah ada

senja menganyam gelisahnya. menyulam sajak-sajak yang pernah tertuang di bukubuku bambu. dan, dia melihatnya turun di jembatan pelangi. bersama iringan sayap kupukupu. yang melantunkan tasbih jutaan bidadari.

"sosok itukah yang kukenal?" Tanyanya sendiri.

yang kali-berkali dipanggilnya tida sekali menyahut. yang berjuta simpul rindu mengail tiada jua bertaut. yang berkalikali berharap hingga sekarat. kemanakah gerangan dia pergi? waktu melindapkan dari manik matanya. hingga kesempatan hengkang dari pagi dan petangnya.

"kaukah, sekuntum rindu?"

"aku mengenang senyummu meski kalah tiada berhenti. aku menanti suaramu, hingga semua kata tak terdengar lagi. aku merindu tatapmu hingga semua biji-biji hujan yang luruh, mati"

barangkali hanya batu yang menemaniku bicara. yang mengangguk dalam beku, yang menggeleng dalam bisu.

senja merenggang. hilang dikatup tirai malam. kegelapan menyantap hatinya. menggelandang rindunya. mengarungi malam-malam liar tak bertuan. malam bengis yang merepuhkan sepi hingga jera menyalak lagi ~k'sati,kemanggisan~


(Baca Selengkapnya)

Sunday, July 12, 2009

ya dan tidak


ketika kanak-kanak dia mengangguk, atau menggeleng untuk apa saja. ketika belia dia berkata ya, dengan lantang tanpa perduli perkara. menjelang remaja dia berkata tidak dalam hati saja. kini dia dewasa, dan selalu merenung untuk ya yang disesalinya, dan tidak yang tak sanggup diucapkannya. sesekali dia hendak menangis atas tidak yang diputuskannya. atau ya yang tak diinginkannya. dia tau, dia dewasa dan akan akan menua. dan dia juga mengerti, bahwa harus ada ya dan tidak yang tak pernah dipahaminya, namun harus dipilihnya. dia juga menyadari barangkali akan ada ya dan tidak yang mungkin tak pernah diselesaikannya.


---
dia mungkin bisa saja memborgol tangannya, mematahkan penanya, atau menendang papan keyboardnya. namun bagaimana bisa, menghentikan kata-kata yang terus mengalir di kepala, yang berbisik saat tidur ataupun terjaga...

~ kau benar ri, membunuh keinginan menulis, sama saja membekap mulut untuk bicara ~
(Baca Selengkapnya)

Monday, May 25, 2009

lafas-lafas

hari ini, hari pertama sejak waktu itu. setelah beberapa hari dipuasainya selera dari selular. hari ini dia masih berniat libur dari dering telpon. hari ini tak ingin dia tangkap keinginan yang berkumpul dan berjumpalitan. biar saja jatuh berserakan... suara parau-suara merdu. suara gaduh-suara mengaduh. ah biar saja lalu.

barangkali telah seminggu, mungkin akan sebulan. dia padamkan dunia. dari kawat ataupun gelombang yang mengapung di udara. dia bosan. sedang bosan. dan sebelum dirinya benar-benar dimangsa bosan, dia memutuskan untuk lebih mendahului dengan menelikung sang kebosanan.

rasanya dirinya tak penting. bukan orang penting. juga bukan siapa-siapa. mungkin pula bukan apa-apa. tak seperti dirimu. atau mereka. yang begitu banyak kepentingan harus dihadapi. hubungan kompleks yang harus dirawat hati-hati. kewajiban yang harus dijalankan. hak-hak yang mau tak mau minta ditunaikan. jaringan yang butuh terus disambungkan.

dia mengumpamakan hidupnya laksana guliran butir dadu. dan baginya tak ada guna menebak, ataupun sekedar memilih ya dan tidak. dia telah tahu untuk mendapatkan variabel keentahan berkali-kali. termasuk esok pagi. baginya hidup adalah tidur dan terjaga. menemukan atau ditemukan. mencari atau dicari. mengejar atau terkejar. dan dia telah sampai pada tahap akut menjalani semua itu. dirinya telah sampai pada tahap kemalasan yang tak memerlukan lagi sebab. sebab yang tak perlu lagi alasan. begitulah kira-kira dia mengasumsikan.

katakanlah saja dia sedang hendak jadi penonton. penonton anggun. yang paling setia. yang akan tertawa untuk canda. bersorak, ketika sang lakon tiba. dan bersedia menangis akan apa saja…

mungkin dia sedang memilih merasai terpinggir dari panggung kehidupan. menyentuh bibir hidup sampai pada garis nihil. membiarkan nihil itu mencapai keinginannya, lalu menggelung belulang harinya. menaburkan racun pada saripati hidupnya. hingga dia bisa memaknai hampa, menghargai setiap serpih tawa.

dirinya kali ini ingin sejenak saja berhenti. menepi dari ramai suaramu. kekeh tawamu. yang kadang terlalu rumit tuk ditakwilkan ~k'sati~.

---
untuk r yang senantiasa menakjubkanku : sejahteralah hari-harimu...
(Baca Selengkapnya)

Saturday, April 25, 2009

what if

lonely

what ‘bout there’s no if
only nothin’

what if there’s no true
only fake

what if neither real nor
only

still... empty remain?




barangkali lelaki itu akan mati esok pagi. bisa jadi siang nanti. atau mungkin dia dan malaikat telah sepakat untuk berangkat sore nanti. lelaki itu tak terlihat peduli. menghembuskan nafas sigaretnya santai sekali. sambil sesekali hidungnya menghisapnya lagi ketika sang asap hendak membumbung tinggi. begitukah nasib mempermainkan hidup? seperti bulir dadu yang melintir kesana kemari. ketika dia menerka hendak begini. yang ada hanya ragu yang pasti.

matanya, menatap gugusan langit tanpa kedip lama sekali.

lelaki tak perduli. apakah dia, sudah lebih dulu mati. atau hanya bertahan karna eksistensi yang dia tak pernah mengerti.

sekali cuih
tetap cuih
siapa perduli?

dia mungkin akan duduk di atap gedung itu hingga malam lelah memeluk. hingga pagi menjemput. atau akan tidur digorong-gorong sana. sampai warna dan bau tak dikenali lagi. atau lelap digelut pengap bilik, bersama uap nafas yang mengedus telinga. dengan farfum tak beraroma. tak berwarna. dengan tatap mata tak bermakna. dengan tawa dan senyum tak bernama

sepi. apakah itu sepi? mengapa berat sekali. berapakah massa sepotong sepi. mengapakah luas sekali. seolah tak bertepi. dia bertanya sekali lagi. hingga tertawa keras sekali.

asap sigaret menari nari.~karangsati~
(Baca Selengkapnya)

Wednesday, April 15, 2009

kambing dan kampus stan

       Jangan heran kalo melihat kambing di kampus STAN. Mungkin, di muka bumi ini, hanya STAN satu-satunya kampus yang kelasnya dimasuki kambing. Tapi eh, tunggu dulu, bung. Itu bukan membuktikan warga STAN adalah penyayang binatang. Bukan. Ente kejauhan kalo punya asersi begitu. Namun, katanya sih. Kambing itu merupakan warga STAN dari ordo hewan. Paling nggak, temennya si karang yang kabar-kaburnya tau lebih banyak hal bilang begitu. Katanya, dia pernah bilang kambing yang ada di kampus STAN itu bukan kambing biasa.

        “Itu kambing pilihan, Rang” Katanya.

        “Pilihan bagaimana?”

        “Sebelum masuk sini mereka, para kambing, udah lulus ujian saringan masuk”

        “Wah tergolong kambing hebat dong” Karang melomoti permen kojeknya.

        “Ya jelas. Bukan hanya hebat. Tapi ajaib. Kamu tau berapa banyak para pelajar yang berminat untuk masuk STAN?”

       Karang menggelengkan kepala.

        “Limapuluh ribu orang” Tukasnya bersemangat. “Sedang yang diterima nggak lebih dari seribuan. Coba dikomparasi satu orang mengalahkan berapa. Nah,!"Tiba-tiba sang teman berkuncir kuda yang disampingnya itu setengah berbalik mengangkat sikunya. hingga menubruk lengan karang. glek! karang yang lagi asik ngemut-ngemut kojek tersodok. hampir aja tuh kojek ketelen ama batang-batangnya. "...Begitu juga persaingan antar kambing!” serunya.

       Wah. Mata karang melotot, dan lagi-lagi harus geleng-geleng kepala. Ternyata dunia sekarang sudah sangat susah. Bukan hanya jadi manusia aja yang harus bersaing. Diantara kambing pun harus bersaing.

        “Tapi kapan saringan masuknya? Kok saya nggak pernah lihat?”

        “Itu karena kamu terlalu sibuk. Coba waktu pendaftaran pertama dulu. Penerimaan mahasiswa baru dulu. Apa yang kamu pikirkan? Pasti yang kamu pikirkan kan bagaimana caranya lulus ujian saringan masuk. Kamu belajar habis-habisan. Apa pernah kamu perhatiin lingkungan sekitar?”

       Karang manggut-manggut. Gut-gut-gut!

        “Waktu penerimaan mahasiswa baru di tingkat dua kamu malah pulang traveling. Betul?”

Bah lagi-lagi si karang harus mantuk-mantuk... memandangi kojeknya.

----
where is the goats?
are they too bussy to bleat...
(Baca Selengkapnya)

Friday, April 3, 2009

watching over you

what matter could bring your memory throught the time back to the past? smell of thing? taste a food? or… hear a song?

allright, i just want to talk ‘bout the song. the song which reminds me for my past time. the song from my chilhood going to teen. i always hear this song, before sleep. (hehehe… suck sentimental feeling i have). in the very early morning (about 1 o’clock am). one of radio station in jakarta always broadcast this song before ended its broadcasting. if u, people, have a bloom youth years in jakarta, about 1985-1990, might know what station radio i mean. ok, you damn right, eskawan! the station radio is suara kejayaan.

this song was a trademark for that radio’s station. honestly, for years i ‘ve never knew the true title of this song. once ever i asked by phone to the radio. operator said that the title of this song is “goodnight”, and the singer emerson lake palmer. ye yeah… wrong info sucessfully perverted me for years, from finding the song in store cassette shelf. as u know, at that time. internet was far from present in world. internet still formed as fetus in the pouch of its mother, aparnet. the era search and find in search engine was not born yet.

i never blame that operator for give me missinformation. this song is quiet old, and not familiar for common people. in indonesia elp was not popular band. ‘not like beatles or beegees. lake and sinfield mastered this song in 1977. and put it in the work volume 2, the band sixth album. coincidentally at the sixth track too.

dunno. why i longing for this song. the feeling bring my finger to type few words in google bar. the result… yeah, i got it. i got torrent that keeps this song in its server. some crazy like me has slipped it between tons of files. it’s bundled in its original album, work vol 2. i just download one song. that song. watching over you. you know what i feel at that time? feels like meet the one that we miss so much. couldn’t be describe in words.

suara kejayaan. or sk. was still on 846 am *) at that time. u might wonder why i could remember its broadcast’s station frequency. i don’t googling. even google don’t know, i think. its purely from my mind. who can forget “eske-eitforsix!” “eske-eitforsix!” the radio anouncer or ad always mention that repeadly like hitler yell “kill the jews. kill the jews” hehehe just kidding. sk, dunno, where fate has blew its destiny, i never heard that station’s radio again…

click here to play this song

download : watching over you - emerson lake plamer


----
any article is suspended coz complained by anyone
(Baca Selengkapnya)